Berhitung Sebelum Bersepeda ke Kantor

Pagi itu lalu lintas di Jakarta sama seperti biasanya, macet di mana-mana. Namun itu bukan halangan bagi teman saya yang bernama Wahyu. Dia bisa dengan lincah menembus kemacetan dari Cimanggis hingga Fatmawati (jarak sekitar 20 kilometer), dengan waktu tempuh kurang dari 1 jam. Namun bukan dengan motor dia berhasil melibas kemacetan, melainkan sepeda yang dikayuhnya menuju kantor.

Cara lain ke kantor ini, belakangan lebih terkenal dengan istilah bike-to-work.

Memang benar adanya, bahwa di setiap kesempitan selalu ada kesempatan. Masalah kemacetan yang tak kunjung terurai membuat bersepeda untuk beraktivitas sehari-hari menjadi relevan.

Bagi saya, bersepeda ke kantor menawarkan 3 manfaat sekaligus: waktu tempuh yang lebih cepat, biaya yang lebih murah, dan sebagai media untuk berolahraga di tengah rutinitas pekerjaan.

Saya sendiri sebelum menggunakan sepeda, juga menggunakan mobil untuk beraktivitas ke tempat kerja. Jika sebelumnya saya harus membeli bensin Rp 300 ribu per minggu, sekarang dengan frekuensi bersepeda ke kantor 2-3 kali per minggu, setiap minggu saya hanya perlu membeli bensin setengahnya.

Berarti saya bisa punya tambahan tabungan sejumlah Rp. 600 ribu/bulan yang jika saya investasikan di reksadana campuran secara rutin selama 10 tahun, bisa terakumulasi menjadi lebih dari Rp. 165 juta.

Jumlah uang yang tidak sedikit bukan? Ini tentu bisa untuk menambah tabungan dana pendidikan anak-anak nantinya.

Kembali ke Wahyu teman saya, untuk mendukung kegiatannya bersepeda ke kantor, dia bahkan telah berhenti merokok. Hal ini tentu melampaui hitungan matematis terkait penghematan yang ia lakukan, karena berarti dia akan menjalani kehidupan yang jauh lebih sehat dibandingkan sebelumnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai bike-to-work:


1. Sepeda yang diperlukan untuk melintasi jalanan aspal sebetulnya tidak perlu spesifikasi yang terlalu canggih, sepeda gunung (MTB) biasa sudah cukup memadai.

2. Perlengkapan keselamatan standar seperti helm, masker, bel, dan lampu adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar, terutama jika harus bersepeda malam hari.

3. Ukurlah jarak tempuh yang akan dilalui dan sesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Masing-masing orang memiliki ketahanan fisik yang berbeda, ada baiknya jika berkonsultasi dulu dengan dokter.

4. Carilah teman atau rombongan pesepeda agar dapat saling menyemangati dan saling menjaga selama perjalanan.


Bersepeda tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, namun juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan bersepeda, kita turut berkontribusi mengurangi beban polusi di bumi yang akan kita wariskan untuk anak-cucu kita. Ini kontribusi kecil saya untuk bumi yang kita cintai, apa kontribusimu?

Jerry/ QM Financial

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.