Beri Kredit Konstruksi, SMF Tunggu Aturan OJK Terbit

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) (Persero) tengah mengembangkan layanan kredit konstruksi sebagai bentuk perluasan kegiatan usaha di 2021.

Direktur Keuangan PT SMF Heliantopo mengatakan, hingga saat ini, rencana penyaluran kredit konstruksi tersebut masih dikaji dan menunggu penerbitan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK).

"SMF sekarang ini sedang dalam proses menawarkan kepada bank lembaga penyalur KPR untuk pembiayaan konstruksi. Memang Perpresnya sudah dari tahun lalu, tapi masih ada proses terkait POJK," ujar Heliantopo secara daring, Jumat (30/4/2021).

Adapun saat ini, SMF saat ini masih menunggu pihak perbankan untuk melakukan refinancing (penyaluran kredit kembali). Perseroan akan melihat permintaan atas pembiayaan terlebih dahulu. Jika telah membaik dan bank dapat menyalurkan kredit konstruksi, maka SMF akan melakukan refinancing terhadap bank tersebut.

"Kalau lihat kapan SMF merefinance perbankan justru kalau sekarang ternyata misalnya membaik, nanti bank menyalurkan dulu, jadi ada jeda waktu, bank menyalurkan pembiayaan konstruksi, lalu direfinance ke SMF, jadi perlu waktu," ujarnya.

SMF sendiri menargetkan sudah mulai menyalurkan kredit konstruksi di bulan April-Mei ini.

"Beberapa hal sedang didiskusikan, tapi kan mesti ada (pembiayaan) dulu dari perbankan ke konstruksi baru direfinance. Mudah-mudahan kondisinya semakin membaik," katanya.

SMF Cetak Laba Bersih Rp 470 Miliar di 2020

Keberadaan PT SMF sebagai lembaga pembiayaan yang dibentuk Pemerintah menjadi sangat penting dalam memasok dana jangka panjang
Keberadaan PT SMF sebagai lembaga pembiayaan yang dibentuk Pemerintah menjadi sangat penting dalam memasok dana jangka panjang

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF mencatat kinerja positif sepanjang 2020. Hal ini terutama dalam penyaluran dana dari pasar modal ke penyalur KPR di sektor pembiayaan.

Berdasarkan hasil laporan keuangan 2020 Perseroan (audited) dari 2005 hingga akhir 2020, secara total akumulasi dana yang telah dialirkan SMF ke sektor pembiayaan perumahan mencapai Rp 69,15 triliun. Total aset SMF hingga akhir 2020 sebesar Rp 32,57 triliun.

Pencapaian kinerja yang positif tersebut ditopang dari kegiatan sekuritisasi sebesar Rp 631 miliar, penyaluran pinjaman sebesar Rp 6,43 triliun, serta penerbitan surat utang sebesar Rp 7,27 triliun. Laba bersih pada 2020 mencapai Rp 470 miliar.

Kinerja kegiatan usaha dan keuangan SMF sepanjang 2020 di atas RKAP perusahaan, kecuali untuk pendanaan termasuk penerbitan surat utang dan pinjaman lainnya. Untuk pendanaan ini mencapai 98,17 persen dari RKAP 2020.

Terkait penerbitan surat utang korporasi sebagai sumber pendanaan, SMF selama 2020 telah menerbitkan surat utang sebesar Rp 7,27 triliun melalui penerbitan obligasi PUB V Tahap III sebesar Rp 4 triliun, PUB V Tahap IV Rp 2,11 triliun, sukuk mudharabah PUB I Tahap II Rp 346 miliar, MTN IX sebesar Rp 700 Miliar dan MTNS X sebesar Rp 110 miliar.

Posisi (outstanding) surat utang SMF mencapai Rp 18,16 triliun dan (oustanding) pendanaan jangka panjang dari bank sebesar Rp 1,5 triliun.

Untuk transaksi sekuritisasi, sejak 2009 sampai 31 Desember 2020, SMF telah berhasil memfasilitasi 14 kali transaksi sekuritisasi dengan total nilai akumulatif Rp 12,78 triliun. Sedangkan untuk kerja sama pembiayaan, SMF telah bekerja sama dengan Bank Umum, Bank Syariah, Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan Perusahaan Pembiayaan.

Direktur utama SMF, Ananta Wiyogo, mengatakan dari seluruh dana yang telah dialirkan, SMF telah membiayai kurang lebih 1,08 juta debitur KPR (termasuk KPR Program FLPP).

"Ini menggambarkan sebaran dari penyaluran dana sampai Desember 2020 untuk kurang lebih 1,08 juta debitur, terdiri dari 65 persen pinjaman, 12 persen KPR FLPP, 22 persen sekuritisasi, dan 0,14 persen pembelian KPR," tutur Ananta dalam konferensi pers pencapaian kinerja PT SMF tahun 2020 dan strategi 2021 pada Senin (5/4/2021).

Sebaran wilayahnya terbagi atas 84,20 persen wilayah barat, 15,12 persen wilayah tengah dan sisanya sebesar 0,68 persen wilayah timur.

"Jadi masih banyak ketimpangan di barat, belum sampai merata ke seluruh Indonesia," sambungnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: