Berikut Hal-hal yang Harus Diperhatikan ketika Bukber

Syahdan Nurdin, IkhsanHidayat
·Bacaan 3 menit

VIVA - Bulan yang dinanti oleh umat Islam telah tiba. Bulan dengan penuh kemuliaan yang di dalamnya menjadikan muslim bertaqwa.

Apalagi kalau bukan bulan Ramadan. Pada bulan ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah, mengingat, pahala berlipat ganda akan diraih bagi seseorang yang taat beribadah.

Bulan Ramadan tidak hanya mengajarkan kepada kita agar merasakan bagaimana orang sekitar yang kekurangan, seperti kurang makanan dan lain sebagainya.

Ramadan tidak hanya menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari, namun banyak pelajaran yang didapat dari bulan ini.

Di antaranya ialah dalam menghadapi hawa nafsu, di bulan Ramadan, kita dilatih untuk bisa mengandalikan hawa nafsu.

Termasuk pada salah satu momen yang tak ketinggalan khas Ramadan, yakni bukber(buka puasa bersama). Nah, mengenai pelaksanaannya sendiri, biasanya, sudah jauh-jauh hari dipersiapkan.

Bukber yang dimaksud di sini ialah bukber di luar masjid, seperti di warung, cafe, rumah makan dll. Kegiatan ini diniatkan sebagai ajang silaturahmi, yang diadakan oleh suatu kelompok tertentu misalnya.

Lalu, yang menjadi pertanyaan ialah, boleh atau tidak bukber? Haruskah? Tentu saja boleh dan tidak dilarang, selama tidak melupakan ibadah wajib lainnya.

Karena, bukber itu hanyalah kegiatan oleh sekelompok orang yang ingin berkumpul dan tujuannya pastinya positif. Yang perlu diingat bahwa, jangan sampai bukber menjadi sia-sia hanya karena melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan.

Setidaknya ada beragam manfaat yang didapatkan dari bukber. Di antaranya; menyambung silaturahmi, ajang berbagai, refreshing dan lain sebagainya. Tentu diperbolehkan, dan tidak sampai lupa ibadah. Pahala orang yang memberi makan orang puasa pun seperti orang yang sedang berpuasa.

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192.

Dan ada hal-hal juga yang harus diperhatikan saat mengadakan bukber.

Pertama, di saat menunggu adzan magrib atau istilah lainnya ngabuburit. Kadang momen ini disalahkan gunakan. Ngabuburit dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti berfoto, menjadi tempat berbaurnya antara laki-laki dan perempuan, dll. Padahal ini dilarang oleh agama, Ramadan adalah bulan suci, maka aktivitas di dalamnya pun harus mencerminkan kesucian.

Kedua, di saat berbuka. Mulailah dengan air putih, makanan yang ringan dan manis-manis. Dianjurkan untuk tidak langsung makan berat. Ini dimaksudkan agar ibadah yang selanjutnya dilakukan bisa berjalan lancar dan khusyu'. Makan pun secukupnya saja, tidak berlebihan. Sebab Islam juga melarang berlebih-lebihan.

Ketiga, setelah berbuka. Karena terlalu asyiknya dengan makanan, atau obrolan yang makin seru, dikarenakan baru saja bertemu teman lama, kita sampai tidak shalat berjamaah. Bahkan, di beberapa tempat yang mempunyai spot foto menarik, seringkali digunakan untuk berfoto ria terlebih dahulu, namun ketinggalan shalat magrib dan tarawih.

Alangkah lebih baik sebelum ataupun sesudah berbuka puasa, sambil menunggu waktu, dipergunakan untuk berdzikir dan tadarus al-Qur’an.

Sekali lagi, buka puasa bersama itu tidak dilarang. Selama tidak menggangu ibadah khususnya yang ada di Bulan Ramadan. Mari kita eratkan hubungan persaudaraan tanpa menyampingkan urusan kita kepada sang Pencipta.

Dan di Bulan yang penuh rahmat ini, mari berlomba-lomba dalam kebaikan, hindari segala yang diharamkan. Semoga bersama saudara, orangtua, sahabat kita dapat bertemu dan berkumpul kembali di hari kemenangan.