Berkabung Demi Ratu Berarti Melawan dalam Senyap

Merdeka.com - Merdeka.com - Ribuan orang di Hong Kong berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir mereka pada Ratu Elizabeth II yang tutup usia pada Kamis pekan lalu. Lebih dari 2.500 orang berbagai usia memadati depan gedung konsulat Inggris di Hong Kong. Mereka membawa bunga disertai sejumlah pesan ucapan terima kasih pada Ratu Elizabeth II.

Bagi sebagian warga Hong Kong, yang merupakan bekas koloni Inggris, kedatangan mereka ke konsulat Inggris bukan sekadar untuk menyampaikan duka cita atau belasungkawa, tapi juga protes terselubung terhadap China. China dinilai semakin membatasi gerak dan kebebasan warga Hong Kong setelah mengesahkan undang-undang keamanan nasional yang menuai unjuk rasa berbulan-bulan.

Seperti diketahui, Inggris menyerahkan kedaulatan Hong Kong pada Beijing 25 tahun lalu.

Perkumpulan massa jarang terjadi sejak UU keamanan nasional disahkan pada Juni 2020, yang salah satu tujuannya untuk membungkam gerakan pro demokrasi di kota itu.

Wing, seorang pensiunan yang hanya ingin dicantumkan nama depannya mengaku merasa "luar biasa" bisa ikut berkumpul di depan konsulat Inggris untuk memberi penghormatan pada Ratu Elizabeth.

"Saya merasa geram pemerintah Hong Kong tidak menunjukkan penghormatan dengan layak (pada ratu). Mereka takut pada pemerintah China yang melarang mereka, tapi kami adalah bagian dari koloni," kata Wing yang lahir tahun 1960-an, dikutip dari CNN, Kamis (15/9).

Warga Hong Kong lainnya, Sylvia Lee mengaku terpukul mendengar kematian ratu. Menurutnya, Ratu Elizabeth adalah simbol stabilitas di seluruh dunia.

"Tidak ada yang hidup selamanya dan kita tahu hari ini akan tiba suatu hari. Dia adalah sosok yang dihormati, dan pemerintah selama masa kolonial memberikan banyak kontribusi dalam pembangunan Hong Kong, khususnya pada tahun 70-an dan 80-an," jelasnya kepada CNN.

Apa yang dilakukan masyarakat Hong Kong di depan Konsulat Inggris itu juga menjadi sebuah pengingat saat terjadi unjuk rasa pro demokrasi pada 2019, di mana saat itu para demonstran mengadopsi bendera kolonial sebagai tanda perlawanan terhadap China. Saat para demonstran berhasil menerobos ke gedung DPR di kota itu, mereka menggantungkan bendera kolonial di salah satu area gedung.

Pada Kamis, bintang opera Hong Kong, Law Kar-Ying meminta maaf karena meletakkan karangan bunga untuk Ratu Elizabeth di luar gedung konsulat Inggris. Menghapus unggahannya Instagram yang mengatakan dia ingin memberikan penghormatan pada ratu karena Hong Kong pernah menjadi "tanah yang terberkati" di bawah kekuasaan ratu.

"Saya pemegang paspor China sejak lama. Saya orang China dan akan selalu mencintai tanah air saya. Saya minta maaf," tulisnya di platform media sosial China, Weibo.

Belum jelas apa yang membuat Law Kar-ying menyampaikan permintaan maaf.

Inggris memerintah Hong Kong selama 156 tahun sampai diserahkan kembali ke China pada 1997 sebagai bagian dari kesepakatan lama, tetapi tanda-tanda pengaruh Inggris tetap ada, termasuk penamaan jalan dan penggunaan sistem hukum umum.

Ratu Elizabeth sendiri mengunjungi Hong Kong dua kali ketika kota itu masih menjadi wilayah Inggris, sementara putranya, sekarang Raja Charles III, menghadiri upacara serah terima.

Namun, masa lalu kolonial kota itu jauh dari damai dan juga bukan tanpa kritik. Kerusuhan pecah pada tahun 1960-an, ketika apa yang dimulai sebagai protes terhadap kenaikan tarif feri dan tuntutan untuk hak-hak buruh yang lebih baik berputar menjadi pemogokan yang merajalela dan serangan bom yang kadang-kadang membuat kota itu terhenti. [pan]