Berkaca dari Flu Spanyol, Indonesia Bisa Belajar dari Keterlambatan Hindia Belanda Tangani Pandemi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia dinilai harus bisa berkaca dari penanganan pandemi Flu Spanyol di tahun 1918 dalam menangani pandemi COVID-19. Pemerintah Hindia Belanda kala itu dinilai terlambat dalam penanganan dan pengendalian penyakit.

Ravando Lie, Kandidat Doktor Sejarah University of Melbourne, Australia mengatakan bahwa pada saat itu, Hindia Belanda sesungguhnya sudah mendapatkan telegram terkait ancaman virus Flu Spanyol yang diperkirakan akan masuk ke wilayah cikal bakal Indonesia tersebut.

"Tetapi disebutkan bahwa tidak perlu khawatir dan diduga kuat virus ini tidak separah seperti virus influenza yang terjadi pada akhir abad 19," kata Ravando dalam dialog yang disiarkan dari Graha BNPB, Jakarta pada Kamis kemarin, ditulis Sabtu (1/8/2020).

Ravando mengungkapkan, ketika penyakit tersebut mulai masuk dari berbagai jalur pelabuhan dan mulai menimbulkan kepanikan masyarakat, pemerintah dan media kala itu tetap bersikukuh bahwa flu tersebut tidak separah pandemi virus sebelumnya.

"Pada akhirnya ketika terjadi gelombang kedua dimana membunuh jutaan orang, pemerintah Hindia Belanda baru mulai bergerak dengan membentuk komisi influenza," ujarnya. Selain itu, turun naik penumpang di jalur pelabuhan baru diatur pada 1920 usai dibentuknya Influenza Commission.

"Itu cukup terlambat pada tahun 1920 ketika virus itu sudah mulai tertidur atau mungkin mulai menghilang," katanya.

Pertentangan di Kalangan Pengusaha

Perawat menyiapkan masker untuk mencegah penyebaran flu Spanyol pada 1918. (foto: National Archives)
Perawat menyiapkan masker untuk mencegah penyebaran flu Spanyol pada 1918. (foto: National Archives)

Syefri Luwis, peneliti sejarah dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa di Hindia Belanda kala itu, 1,5 juta orang menjadi korban dari pandemi Flu Spanyol. Namun, studi lain mengungkapkan bahwa korban di Jawa dan Madura saja mencapai sekitar 4,37 juta jiwa dengan total penduduk sekitar 60 juta orang.

"Jawa menjadi episentrum karena jumlah penduduknya sangat padat pada saat itu," kata Syefri dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, ia mengatakan bahwa terjadinya pertentangan di antara kalangan pengusaha juga menjadi salah satu faktor penyebab Hindia Belanda terdampak parah flu Spanyol.

"Di mana para pengusaha saat itu tetap memaksakan perjalanan kapal laut yang dari luar negeri itu masuk ke Hindia Belanda karena urusan bisnis dan lain-lain," ujarnya.

Ia mengungkapkan, dokter-dokter pada saat itu juga telah meminta adanya larangan berkumpul. Namun direktur kehakiman menolaknya dengan alasan dapat menimbulkan keresahan.

Ravando mengatakan bahwa flu Spanyol di wilayah Indonesia timur masih berkecamuk hingga sekitar bulan April dan Mei 1919.

"Akan sulit mendapatkan jumlah (korban) sesungguhnya karena pada saat itu banyak laporan yang ditutupi dan juga sistem informasi juga belum terbuka seperti saat ini."

Pengaruh Perang Dunia I Terhadap Penyebaran Penyakit

Flu Spanyol pada 1918. (Foto: National Archives)
Flu Spanyol pada 1918. (Foto: National Archives)

Beberapa penelitian menyebut bahwa korban meninggal secara global dari pandemi Flu Spanyol pada saat itu bisa mencapai 20 hingga 100 juta orang.

"Hampir seluruh pelosok Bumi terkena penyakit ini," kata Syefri.

Flu Spanyol sendiri sesungguhnya tidak diketahui dari mana asalnya. Penyakit ini disebut "Flu Spanyol" karena saat itu, Spanyol merupakan negara netral dalam Perang Dunia pertama yang pertama kali melaporkan temuan kasus penyakit tersebut.

Menurut Syefri, beberapa negara yang diduga menjadi awal dari penyebaran flu ini adalah Amerika Serikat, Prancis, hingga Tiongkok.

"Teori yang paling memungkinkan mengenai penyebaran Flu Spanyol ini, akarnya diduga bermula dari Kansas, Amerika Serikat. Karena pada saat itu terjadi Perang Dunia pertama, maka terjadi mobilisasi tentara dan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga memudahkan penyebaran virus,' kata Ravando.

Syefri mengatakan, Perang Dunia pada saat itu juga punya peran dalam penyebarannya karena informasi yang ditekan agar menghindari turunnya kondisi mental para tentara yang tengah berperang.

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini