Berkaca Dari Kasus KD-Azriel, 3 Trik Agar Orangtua Akur dengan Anak

Diza Liane Sahputri, Diza Liane Sahputri

VIVA – Penyanyi Krisdayanti dan dua anak kandungnya dengan Anang Hermansyah, Aurel dan Azriel, tengah menjadi perbincangan. KD, sapaan akrabnya, terlibat konflik dengan kedua anaknya di media sosial..

Berawal dari unggahan di akun instagram KD dengan menyinggung anak sulungnya, Aurel dan dibalas dengan curahan hati putranya, Azriel. Nama ketiganya lantas mencuat menjadi topik hangat di dunia maya.

Dikutip dari laman Empowering Parents, banyak orangtua yang kerap mengeluhkan sikap anaknya, khususnya saat beranjak remaja. Hal tersebut wajar, terlebih jika adu mulut memang menjadi makanan sehari-hari bagi orangtua dan anak di rumah.

Baca juga: Bongkar Chat Aurel, Krisdayanti Minta Publik Tak Sudutkan Raul Lemos

Menurut Debbie Pincus, penulis The Calm Parent AM and PM dan pakar parenting, permasalahan yang kerap hinggap antara orangtua dan anak ditengarai oleh gaya pengasuhan yang tak mengacu pada koneksi jangka panjang dan kepercayaan. Banyak orangtua juga yang minim komunikasi dengan anak, sehingga membuat anak menjadi tidak hormat dan tak lagi terkontrol.

Untuk itu, dipaparkan Debby, ada 3 cara agar orangtua dan anak akur kembali. Berikut tiga tahapannya.

Beri sikap positif

Hilangkan pola pikir bahwa anakmu adalah musuh dan kamu harus selalu menangi perdebatan. Apapun sikap anak, komitmen sebagai orangtua harus dijalankan. Bersikap tenang dan stabil dapat membuat anak lebih menghargai. Selain itu, berpikir seperti seorang ketua yang fokus pada kebahagiaan anak, dapat memberi tanggungjawab pada anak.

Beri anak kepercayaan

Selama risiko yang diambil anak tak membahayakan kesehatan dan keamanan, biarkan anakmu mengambil langkahnya sendiri. Dengan mempelajari kesalahannya, anak akan mampu menerima konsekuensi dan lebih bertanggungjawab. Hal tersebut sebagai amunisi anak untuk jalani kehidupan. Jadi, percayai setiap langkah anak dan dukung apapun keputusannya.

Selalu berada di pihak anak

Jangan pernah menempatkan diri sebagai pihak yang melawan anak. Kalian, orangtua, adalah pelatihnya dan perlu mengontrolnya bukan melawan. Jika kamu menunjukkan sikap melawan dengan berteriak dan memarahi, membuat anak merasa sedih dan kecewa.