Berkaca dari Sapri, Hipertensi dan Diabetes Picu Gagal Jantung

·Bacaan 2 menit

VIVA – Industri hiburan Tanah Air berduka, komedian yang akrab disapa Bang Sapri meninggal dunia pada Senin, 10 Mei 2021. Dua faktor utama pemicu penurunan kesadaran pada almarhum Sapri adalah penyakit komorbid hipertensi dan diabetes.

Dalam beberapa hari terakhir, Bang Sapri sempat dirawat di rumah sakit dan mengalami penurunan kesadaran. Menurut penuturan sang istri, Irma, Sapri tak sadarkan diri setelah kadar gula darahnya melonjak.

Rekan sesama komedian, Eko Patrio melalui kanal YouTube Paragram Official bercerita, dua pemicu kondisi Sapri adalah tidak stabilnya tekanan dan gula darah. Kedua kondisi itu, dituturkan Eko Patrio, sempat melonjak tinggi.

"Dari dokternya saya dapat info dia punya komorbid hipertensi, tapi komorbid kan penyakit penyerta, hipertensi, tadinya 175 jadi 125. Justru problem mendasarnya dari gulanya, dari 1100 sampe 300. Itu juga sudah bagus artinya sudah turun jauh," kata Eko Patrio.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Kebon Jeruk Dokter Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, menyebut bahwa hipertensi dan diabetes menjadi faktor utama pemicu komplikasi pada jantung. Organ vital tersebut sangat membutuhkan kestabilan pada tekanan dan gula darah.

Pada kasus almarhum Sapri, kedua kondisi tersebut tak stabil sehingga berisiko menyerang organ jantungnya. Dituturkan Dokter Leonardo, saat tekanan dan gula darah melonjak tinggi, rentan memicu kondisi gagal jantung.

"Semakin banyak faktor risiko di atas yang dimiliki seseorang, semakin besar risiko untuk menderita gagal jantung," kata Leonardo dalam acara virtual digagas Siloam Hospital Kebon Jeruk, baru-baru ini.

Selain kedua faktor tersebut, bahaya obesitas juga turut disorot lantaran berisiko besar terhadap fungsi organ jantung. Serta, adanya faktor risiko penyakit jantung koroner atau serangan jantung sebelumnya.

"Karena sifatnya yang menahun dan progresif seiring waktu, penyakit gagal jantung membutuhkan identifikasi segera dan penanganan tepat sejak awal untuk mencapai hasil optimal," ujar dokter Leonardo.

Dokter Leonardo menyarankan agar masyarakat yang memiliki faktor risiko tersebut segera memeriksakan kondisi tubuhnya di Klinik Gagal Jantung. Dengan tim khusus yang berdedikasi di bidang penyakit jantung ini, diharapkan informasi dan edukasi bisa didapatkan secara maksimal untuk deteksi dini. Selain itu, pelayanan multidisiplin subspesialisasi diperlukan pada kasus gagal jantung lanjut karena kompleksitas kasus menuntut pelayanan terapi secara komprehensif.

"Berdasarkan data penelitian kami dalam kurun waktu 2019-2020, sekitar 3 persen pasien gagal jantung meninggal selama perawatan di rumah sakit dan sekitar 22,5 persen pasien lainnya meninggal dalam waktu 6 bulan setelah pulang rawat," ucapnya.