Berkaca dari tragedi Itaewon dan Kanjuruhan: Pentingnya manajemen kerumunan untuk meredam resiko _stampede_

Sabtu tanggal 29 Oktober 2022 menjadi hari kelam bagi masyarakat Korea Selatan. Kemeriahan perayaan Halloween di Itaewon, salah satu distrik di Kota Seoul, berakhir mengenaskan. Lebih dari 150 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat berdesak-desakan.

Itaewon adalah sebuah pusat hiburan di Seoul yang menawarkan berbagai restoran mancanegara, lengkap dengan toko, bar, dan kehidupan malam. Aneka restoran yang menawarkan kuliner internasional membuat banyak orang asing berkunjung ke sana. Keunikan ini pun menjadi daya tarik bagi penduduk lokal yang ingin merasakan suasana seperti di luar negeri.

Suasana yang multikultur membuat Itaewon menjadi salah satu tempat populer untuk merayakan Halloween, selain di Gangnam dan Hongdae.

Setelah dua tahun vakum dari pesta Halloween akibat pandemi COVID-19, masyarakat Korea Selatan tampaknya menjadi sangat antusias untuk merayakan pesta kostum di sana. Diperkirakan setidaknya ada 100 ribu orang yang mengunjungi kawasan Itaewon pada malam itu.

Hal inilah yang menjadi malapetaka karena terlalu banyak massa yang berkumpul. Orang-orang saling berdesakan, berhimpitan, dan berakhir stampede atau tewas akibat berdesakan.

Stampede di Itaewon mengingatkan kita pada tragedi Kanjuruhan di Malang yang menewaskan lebih dari 130 orang pada 1 Oktober silam. Tragedi ini menjadi salah satu insiden terkelam dalam sejarah sepak bola dunia.

Tragedi yang terjadi, baik di Itaewon dan Kanjuruhan, sama-sama merupakan imbas dari antusiasme masyarakat terhadap sebuah kegiatan. Meski begitu, antusiasme bukanlah penyebab utama terjadinya insiden-insiden mematikan tersebut.

Yang terjadi di Itaewon

Melalui video yang beredar di media sosial, setidaknya ada tiga hal yang mungkin menyebabkan terjadinya Itaewon stampede.

Pertama, sejumlah besar massa memasuki jalan sempit di Itaewon secara bersama-sama dan bergerak ke arah berlawanan. Padahal gang itu hanya selebar empat meter. Hal ini diperparah karena posisi gang berada tidak jauh dari pintu keluar stasiun kereta bawah tanah sehingga arus massa yang bergerak sulit terurai.

Terjadinya pertemuan antara dua kerumunan massa yang bergerak ke arah berlawanan mengakibatkan saling dorong dan akhirnya terjepit. Belum lagi kontur jalan yang berbukit-bukit sehingga ketika sekelompok orang terjatuh. Situasi ini tentu menimbulkan efek domino.

Kedua, tidak ada penyelenggara festival yang jelas. Hal ini berimbas pada tidak adanya pihak yang bertanggung jawab dalam mengatur jalannya pesta Halloween. Massa berkumpul di Itaewon karena di sana adalah magnet perayaan Halloween bagi kaum muda.

Ketiga, tidak ada protokoler polisi dan tindakan pengendalian massa di sekitar Itaewon. Ini diungkapkan oleh Hong Ki-hyun, Kepala Biro Manajemen Ketertiban Umum Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan. Hal ini menimbulkan kritik dari masyarakat karena polisi dianggap gagal dalam mengantisipasi munculnya kerumunan massa pada puncak perayaan Halloween di Itaewon.

Melalui Itaewon stampede dan beberapa insiden serupa lainnya, pemahaman terhadap manajemen kerumunan menjadi perkara yang mendesak demi menciptakan standar keselamatan yang lebih baik.

Memahami stampede dan manajemen kerumunan (crowd management)

Tidak hanya di Korea Selatan dan Indonesia, kasus stampede ternyata telah banyak terjadi di penjuru dunia. Dalam tiga dekade terakhir, setidaknya ada 23 kasus stampede yang berakhir fatal.

Sebagai contoh, stampede di Kuil Chamunda Devi di Jodhpur, India (2008) yang menewaskan 147 orang, peristiwa festival air Jembatan Pelangi di Phnom Penh, Kamboja (2010) dengan 395 korban tewas, dan tragedi jemaah haji di Mina, Arab Saudi (2015) yang menghilangkan 717 nyawa.

Secara garis besar, kasus-kasus tersebut merupakan imbas dari terjadinya tabrakan antara dua kerumunan massa yang bergerak ke arah berlawanan di jalan yang sama.

Para akademisi sudah banyak mempelajari kajian tentang pengendali massa sejak tahun 1990-an. Studi ini menjadi penting seiring bertambahnya jumlah kegiatan yang mengumpulkan banyak orang dalam satu tempat dan waktu, seperti konser musik, pertandingan olahraga, festival, dan kegiatan keagamaan. Manajemen pengendali massa pun dibutuhkan untuk menjaga keselamatan umum di area publik seperti pusat perbelanjaan dan bandara.

Menurut riset, ada tiga konsep utama dalam mengatur manajemen kerumunan, yaitu keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Ketiga hal ini berperan dalam menjaga arus massa, evakuasi, dan kepadatan massa.

Riset tersebut memberikan contoh skenario manajemen kerumunan Pekan Desain Tortona di Milan, Italia, dengan estimasi jumlah pengunjung 115.000 orang.

Skenario dapat dibuat melalui simulasi dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti lokasi acara, kontur jalan, arus pergerakan pejalan kaki, arus berlawanan, waktu puncak, jalur alternatif, dan kedekatan dengan jalur transportasi. Dengan cara ini, penumpukan kerumunan di satu titik dapat dihindari.

Untuk menghindari resiko stampede, otoritas perlu memberikan sistem peringatan berupa papan tanda di kawasan yang memiliki potensi kerumunan tinggi. Patroli secara berkala dari pihak berwenang juga menjadi penting untuk memantau kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Teruntuk masyarakat luas, ketika menghadiri acara yang menimbulkan kerumunan, penting untuk mencari tahu di mana letak pintu keluar dan jalan keluar alternatif. Mengikuti arus dan tidak saling mendorong juga dapat dilakukan agar himpitan manusia tidak menjadi efek domino yang semakin membahayakan.