Berkaca kepada Kasus Cristiano Ronaldo

Riki Ilham Rafles, Dede Idrus (Bandung)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts, menyadari ancaman COVID-19 akan tetap menghantui timnya meski kompetisi Liga 1 kembali bergulir. Makanya, dia meminta kepada pasukannya untuk menjaga diri dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Berkaca kepada situasi di Eropa, selalu ada pesepakbola yang terpapar COVID-19 setiap pekannya. Terbaru, megabintang Juventus, Cristiano Ronaldo dinyatakan positif COVID-19 usai berlaga untuk Timnas Portugal.

Baca juga: Persib Bandung Mulai Berandai-andai Liga 1 Jadi 2 Wilayah Lagi

"Saya pikir di seluruh dunia sudah mempelajari bahwa COVID-19 mendadak menjadi kenyataan, lalu kami mengikuti instruksi menjaga kesehatan dan keselamatan sebisa mungkin," ujar Robert di Bandung, Senin 19 Oktober 2020.

"COVID-19 juga tetap ada di sekitar kami layaknya penyakit lainnya, seperti malaria, demam berdarah yang juga mematikan. Semua orang juga harus melindungi diri mereka supaya tidak terkena gigitan nyamuk," lanjutnya.

Eks pelatih PSM Makassar ini mengatakan, kondisi sekarang harus bisa diterima untuk hidup berdampingan dengan COVID-19. Sebab, sampai saat ini para ilmuwan belum menemukan obatnya.

"Karena orang-orang juga saat ini masih belum tahu cara paling efektif dalam memerangi COVID-19. Sebelum COVID-19 menyerang orang-orang pergi ke stadion tapi itu belum bisa dilakukan lagi karena virus bisa menyebar. Belum ada penanganan yang pasti untuk penyakit ini dan kami harus mengikuti protokol kesehatan," jelasnya.

Namun, Robert melihat kondisi di Indonesia berbeda dengan Eropa yang kompetisinya tetap berjalan walaupun kasus COVID-19 belum mereda. Sedangkan, di Indonesia ada alasan lain hingga membuat kompetisi belum jelas.

"Meskipun PSSI dan LIB sudah menyetujui liga boleh dilanjutkan, pihak otoritas lain masih bisa membatalkannya. Kalian tidak akan melihat ini di negara lain, ini berbeda," ucapnya.

Baca juga: Liga 1 Belum Jelas, Persib Liburkan Pasukannya

"Jika liga berjalan, polisi yang harus mengikuti instruksi. Tapi di sini berbeda, itu yang saya katakan tadi, struktur politiknya berbeda dan kami harus menerimanya karena ini budaya di negara ini," kata pelatih berusia 65 tahun ini.