Berkah Pandemi Covid-19, Nilai Transaksi Bukalapak Naik 130 Persen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bukalapak mencatatkan kenaikan nilai transaksi 130 persen di 2020, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan nilai transaksi ini imbas kerja keras perusahaan yang terus berinovasi melalui pengembangan fitur dan layanan.

"Peningkatan lebih dari 130 persen juga terlihat pada nilai transaksi di Bukalapak selama tahun ini. Hal ini didukung dengan pengembangan fitur dan layanan, baik pada platform marketplace ataupun O2O (online to offline), yang dinilai efektif dalam menjawab kebutuhan dan permasalahan di tengah masyarakat," kata CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin, dalam acara Temu Virtual Editor: Berkembang Bersama Bukalapak di 2021, Rabu (6/1/2021).

Selain itu, Bukalapak menyadari dengan keterbatasan ruang gerak selama pandemi berlangsung, e-commerce harus menjadi esensial lebih bagi masyarakat. Sehingga sejak awal 2020, Bukalapak telah merespons dampak yang ditimbulkan Covid-19 melalui pengaturan operasional perusahaan.

"Sejak bulan Maret, kami telah menerapkan sistem kerja WFH dengan basis hybrid, dimana bagi karyawan yang tidak memiliki fasilitas yang memadai di rumah, kami persilakan untuk bekerja di kantor dengan tetap mematuhi standar protokol pencegahan Covid-19 yang telah diatur pemerintah. Kami ingin memastikan operasional dapat berjalan dengan normal dan optimal tanpa mengabaikan keamanan karyawan," paparnya.

Adapun, salah satu fitur dan layanan yang paling sering digunakan pengguna Bukalapak di tahun 2020 terlebih di masa pandemi adalah produk virtual dan produk finansial. Menyusul produk dan layanan ini mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan pengguna mulai dari kebutuhan dasar hingga gaya hidup yang memudahkan pengguna dapat bertransaksi dalam satu pintu melalui platform Bukalapak.

"Produk virtual dan produk finansial yang paling diminati diantaranya ialah pembayaran listrik, air, pajak, hingga layanan lain seperti pengiriman uang, pinjaman finansial, dan pengajuan kredit rumah," jelas dia.

Oleh karena itu, pihaknya optimis tahun 2021 akan menjadi tahun yang penuh peluang bagi Bukalapak. Setelah prestasi dan capaiannya di tahun 2020 menjadi fondasi yang kuat bagi Bukalapak untuk terus maju dan berkembang.

"Tidak lupa Bukalapak juga ingin mengucapkan terima kasih kepada 100 juta pengguna Bukalapak saat ini, begitu pula kepada para investor yang telah mempercayakan Bukalapak sebagai mitra bisnis di tengah tahun yang penuh tantangan ini. Kami optimistis akan semakin banyak inovasi yang akan kami lakukan di 2021, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat kehadiran Bukalapak," kata Rachmat.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Berencana IPO, Bukalapak Tengah Susun Infrastruktur

Pembukaan kantor research and development di Surabaya (Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Pembukaan kantor research and development di Surabaya (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Sejumlah perusahaan rintisan atau startup di Tanah Air gencar dikabarkan sedang mempersiapkan rencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau menjalankan aksi initial public offering (IPO). Bukalapak yang sudah berada di bisnis digital selama 11 tahun pun tidak menutup kemungkinan akan melakukan IPO.

Hal tersebut diungkapkan oleh CEO Bukalapak, Rachmat Kaimuddin.

"IPO merupakan salah satu opsi untuk bisa mendapatkan pendanaan secara umum, dan biasanya perusahaan-perusahaan teknologi di masa tertentu juga ingin IPO. Bagi kami opsi itu terbuka, dan kami selalu menyiapkan infrastrukturnya," ungkap Rachmat dalam acara Temu Virtual Editor: Berkembang Bersama Bukalapak di 2021 pada Rabu (6/1/2020).

Kendati demikian, Rachmat enggan menargetkan waktu bagi Bukalapak untuk IPO. Sampai waktu itu tiba, katanya, Bukalapak akan terus melakukan persiapan.

"Kami saat ini juga sudah mendapatkan investor kelas dunia, jadi kami akan memperkuat tata kelola, dan mempersiapkan berbagai hal," tuturnya.

Bisnis Bukalapak sendiri terus mengalami pertumbuhan. Layanan e-commerce itu sejak 2018 hingga 2020 diklaim telah tumbuh 200 persen. Pertumbuhan EBITDA sejak November 2018 hingga November 2020 sebesar 80 persen.

Saksikan video pilihan berikut ini: