Berkas Kasus TPPU Obat Ilegal Dilimpahkan ke Jaksa, Barang Bukti Disita Rp542 Miliar

Merdeka.com - Merdeka.com - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dit Tipideksus) Bareskrim Polri telah melimpahkan berkas perkara serta tersangka (P21) ke Kejaksaan Negeri Jakarta Utara. Penyerahan itu terkait dengan peredaran obat ilegal dengan dua orang tersangka.

"Hari Rabu 8 Juni 2022, kemarin penyidik Eksus Bareskrim Polri telah melaksanakan tahap II penyerahan tersangka dan barang bukti berkas perkara terkait kasus peredaran obat ilegal atas nama tersangka DP yang dilakukan secara virtual atau online di Lapas Mojokerto, Jawa Timur," kata Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Selasa (14/6).

Selain tersangka, penyidik Bareskrim Polri juga menyerahkan barang bukti Kejaksaan Negeri Jakarta Utara. Barang bukti disita dan diserahkan pada tahap 2 senilai Rp542 miliar.

"Dan 4 aset properti atau tanah, meliputi satu bidang tanah, dua unit apartemen dan 1 unit rumah di Jakarta Utara," ujar dia.

Ramadhan menegaskan, penyidikan dilakukan polisi bersama dengan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) merupakan komitmen penegakan hukum dan pemulihan ekonomi nasional. Selain itu, hal ini juga berdampak positif bagi kesiapan Indoensia dalam menghadapi Mutual Evalution Review (MER) oleh Financial Action Tax Force on Moneylendring.

"Di mana saat ini Indonesia sedang berupaya untuk menjadi anggota organisasi tersebut dan salah stau syarat untuk dapat bergabung adalah memiliki banyak prestasi dalam mennagani kasus-kasus TPPU," tutup dia.

Polisi Gandeng PPATK

Sebelumnya, Polri bersama PPATK melakukan join investigasi dan mengungkap Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil peredaran obat ilegal tanpa adanya hak dan izin edar ssejak 2011 hingga 2021 di Indonesia. Dalam kasus tersebut, didapati barang bukti hasil kejahatan uang sebesar Rp531 miliar.

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto menyampaikan, pihaknya menangkap tersangka berinisial DP setelah mengembangkan kasus peredaran obat ilegal di Mojokerto.

"Di mana ada korban yang meninggal dunia karena mengkonsumsi obat, sehingga dilakukan penyidikan sampai kepada aktor daripada yang mengimpor dari luar secara ilegal, kemudian mengedarkan," tutur Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (16/9/2021).

Menurut Agus, penyidik lantas menelusuri aliran uang DP dan mendapati adanya sembilan rekening bank yang dipergunakan untuk bisnis tersebut. Keseluruhannya menggunakan nama DP sebagai identitas.

"Semua Rp531 miliar ini sudah kita freeze (bekukan)," jelas dia.

Adapun DP menjalankan bisnis peredaran obat secara ilegal, tanpa didasari keahlian di bidang farmasi dan tidak memiliki perusahaan tertentu yang bergerak di bidang farmasi. Dalam prosesnya, Agus melanjutkan, tersangka mendatangkan obat-obatan dari luar negeri yang kemudian dijual tanpa izin edar dari BPOM.

"Tentu saja ini sudah dinikmati keuntungannya sedemikian lama," kata Agus. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel