Berkumur dengan Mouth Wash Turunkan Risiko Penyebaran COVID-19

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa menggunakan obat kumur dapat menurunkan risiko penyebaran infeksi virus COVID-19. Penelitian ini didasarkan pada temuan berbasis di Ruhr University Bochum di Jerman yang menemukan bahwa virus corona dalam jumlah tinggi ada di saluran pernapasan bagian atas, termasuk di area mulut dan tenggorokan.

Rongga mulut dan tenggorokan mungkin bisa menjadi lingkungan yang ideal bagi virus untuk menetap pada individu sehat pasca terinfeksi.

Karena penyebaran droplet dari pernapasan, batuk, bersin atau berbicara kemungkinan besar menjadi penyebab penyebaran COVID-19, obat kumur dapat mengurangi risiko penularan dan dapat menurunkan viral load (jumlah kuantitatif partikel virus yang masuk ke sistem tubuh) atau bahkan menghentikannya berkembang biak.

“Temuan kami dengan jelas menganjurkan evaluasi formulasi yang dipilih dalam konteks klinis untuk mengevaluasi secara sistematis dekontaminasi dan kesehatan jaringan rongga mulut pada pasien dan petugas kesehatan untuk berpotensi mencegah penularan virus,” tulis para ilmuwan dalam penelitian tersebut yang dikutip dari laman Times of India.

Baca juga: Vaksin COVID-19 Akan Hadir, Pakar: Pandemi Belum Selesai

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menguji delapan botol obat kumur berbeda yang dibeli di toko yang terbuat dari bahan berbeda yang sebagian besar umum digunakan oleh penduduk Jerman.

Sejumlah obat kumur yang diuji dicampur dengan virus dan partikel biomolekuler untuk menciptakan efek air liur. Larutan tersebut dicampur bersama selama 30 detik untuk meniru berkumur dan melihat apakah larutan tersebut dapat menonaktifkan viral load.

Sebuah laporan lembaga menambahkan bahwa para ilmuwan menguji larutan dalam sel Vero E6, yang menurut para peneliti, "sangat menerima" SARS-CoV-2, untuk menentukan jumlah partikel virus.

Setelah jeda waktu, diamati bahwa sementara, semua obat kumur mampu mengurangi viral load, dan 3 dari 8 sampel mampu membasmi sel virus lebih jauh.

Berdasarkan penelitian tersebut, para ilmuwan juga berharap dapat melakukan penelitian lain untuk melihat apakah obat kumur dapat menimbulkan respons yang sama pada pasien COVID + dan menentukan berapa lama partikel virus dapat bertahan.

Baca juga: 10 Drama Korea Baru di Bulan Agustus 2020, Ini Sinopsis dan Pemainnya

Studi eksperimental ini dilakukan di lingkungan klinis dan lebih banyak penelitian diperlukan untuk menyimpulkan mekanisme dan kemanjuran yang sama. Maka dari itu, Toni Meister, rekan penulis dari studi tersebut, memberikan peringatan tentang eksperimen tersebut.

“Berkumur dengan obat kumur memang tidak bisa menghambat produksi virus di dalam sel, tapi bisa mengurangi viral load dalam jangka pendek di mana potensi infeksi terbesar berasal, yaitu di rongga mulut dan tenggorokan," tutur dia.

Sebelumnya, ada anjuran berkumur dengan larutan garam, atau membersihkan mulut dengan air asin atau hangat disebut-sebut sebagai klaim untuk membasmi COVID-19 di awal bulan.

Namun belum ada bukti nyata bahwa hal tersebut efektif, dan karenanya, tidak boleh diandalkan. Maka dari itu protokol kesehatan dari lembaga kesehatan seperti menjaga jarak dan menjaga kebersihan adalah satu-satunya tindakan yang benar-benar berhasil, pada saat ini.