"Berlututlah," pinta demonstran kepada agen Secret Service kulit hitam di Washington

WASHINGTON (Reuters) - Ketika demonstran memohon para petugas pasukan pengamanan presiden Secret Service AS untuk berlutut untuk bersolidaritas dengan demonstrasi menentang rasisme dan kebrutalan penegak hukum, pemuda Secret Service itu menjelaskan mengapa dia tidak bisa melakukannya.

"Saya menghargai semua ini ... Saya tetap kulit hitam. Anda lihat apa yang saya katakan? Kalian tetap memperjuangkan hak-hak saya," kata petugas yang tidak dikenal itu kepada para demonstran melalui pagar di luar gedung Departemen Keuangan di Washington. "Apa yang saya katakan adalah, secara teknis kami tidak bisa melakukan itu."

Interaksi Sabtu yang direkam oleh Reuters TV itu terjadi saat unjuk rasa terbesar di ibukota AS tersebut ketika puluhan ribu orang memperingati kematian pria kulit hitam tak bersenjata bernama George Floyd pada 25 Mei saat ditangkap polisi Minneapolis.

Dari lembaga penegak hukum federal sampai pasukan polisi kota kecil, para petugas polisi Afrika-Amerika harus bekerja di garis depan dari banyak protes yang terjadi selama 13 hari terakhir di kota-kota di AS dan komunitas-komunitas kecil di seluruh negeri.

Beberapa dari mereka yang berdemonstrasi di luar Departemen Keuangan di sebelah Gedung Putih mengatakan mereka bersimpati kepada kesulitan sang petugas.

"Saya orang militer. Dan ketika Anda berseragam, ada hal-hal tertentu yang dapat dan tidak dapat Anda lakukan," kata seorang demonstran kepada kerumunan orang.

Yang lain meneriakkan: "Berlutut. Lakukan. Lakukan. Lakukan. Berlutut. Lakukan saja."

Mereka bertepuk tangan ketika seorang perempuan petugas Secret Service berkulit hitam melangkah maju dan berlutut sebentar.

Seorang petugas Secret Service kulit hitam ketiga mengatakan kepada sebagian besar demonstran Afrika-Amerika bahwa dia menghormati motivasi mereka menggelar unjuk rasa.

"Saya menggeluti profesi ini karena bagaimana saya dibesarkan di Georgia. Apa yang harus saya saksikan, kisah-kisah yang harus saya dengar dari orang tua saya," kata sang petugas ketiga. "Tetapi saya juga berbicara kepada kalian sebagai orang kulit hitam lain hanya bisa berkata, ini hal yang mendorong saya. Dan sama seperti kalian di luar sana bagi saya, mempertimbangkan apa yang saya lakukan di sini, demi kalian."

Demonstran di seluruh negeri berupaya mengubah fokus unjuk rasa kepada mencari reformasi sistem peradilan pidana AS yang lebih luas dan perlakuan hukum terhadap kaum minoritas.

Dalam pidatonya yang berapi-api pekan lalu, Catrina Thompson, kepala kepolisian Winston-Salem di North Carolina, mengatakan kepada para demonstran bahwa tindakan orang-orang yang didakwa atas kematian Floyd tidak mewakili mayoritas petugas kepolisian AS.

Sebagai ibu seorang remaja berkulit hitam dengan autisme "yang mungkin tak bisa menanggapi petugas polisi yang menyuruhnya angkat tangan," kata dia: "Saya tidak akan berdiri di sini dalam posisi ini dan dengan cara apa pun, bentuk atau format dukungan siapa pun dalam organisasi kami jika saya percaya mereka bisa mencelakakan putra saya atau Anda."


(Laporan Dan Balinovic; Ditulis oleh Daniel Wallis; Disunting oleh Peter Cooney)