Berpelukan Saat Galau Itu Sehat Lho

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Daniel Ngantung

TRIBUNNEWS.COM - Saat dirundung rasa gundah, galau, atau duka, berpelukan dengan orang tercinta rasanya tidak hanya sangat melegakan. Aktivitas ini juga menyehatkan.

Efek positif berpelukan rupanya tak berhenti di situ saja. Belum lama ini, sebuah penelitian mengungkap jika memeluk seseorang dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesehatan dan menajamkan daya ingat manusisa.

Para peneliti meyakini jika efek ini ada hubungannya dengan sekresi peptida oksitosin alias hormon cinta yang terjadi di dalam tubuh.

Hormon ini diproduksi di kelenjar pituitary atau kelenjar pineal, dan berfungsi dalam meningkatkan keeratan, meningkatkan kualitas sosialisasi dan mengeratkan hubungan antar anggota keluarga atau pasangan (sebelumnya sudah banyak penelitian yang menyimpulkan hormon oksitosin sering ditemukan dalam pasangan cinta). Hormon ini juga diproduksi semasa proses melahirkan dan menyusui unutuk meningkatkan hubungan ibu dengan anaknya.

Terlepas dari banyaknya efek kesehatan yang ditawarkan setelah berpelukan, para peneliti menegaskan benefit berpelukan tidak akan terasa jika Anda melakukannya dengan orang yang asing.

"Efek positif akan muncul jika keduanya saling memercayai, ada perasaan yang sama, serta sinyal yang saling berkorespodensi terkirim. Jika dua orang tersebut tak saling kenal, atau berpelukannya tak diinginkan oleh kedua pihak, efeknya akan hilang," ujar ahli saraf Jürgen Sandkühler, kepala Centre for Brain Research Medical University of Vienna seperti yang dikutip TRIBUNnews.com dari Medical Daily.

Efek yang didapat bila berpelukan dengan orang asing malah sebaliknya: Anda akan mengalami stres. Ini karena, kata Jürgen, perilaku menjaga jarak normal menolak dan tak setuju, sehingga hormon oksitosin pun tak terproduksi.

Tak peduli seberapa sering atau lama Anda berpelukan, supaya efeknya bisa dirasakan, Anda harus memiliki rasa salin percaya dulu dengan orang yang akan Anda peluk.

Selamat berpelukan!!
 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.