Berpikir sebelum Bertindak agar Tidak Menyesal

Syahdan Nurdin, santrikreatif1-340
·Bacaan 4 menit

VIVA – “Apabila engkau hendak mengerjakan suatu perkara, maka pikirkanlah dahulu akibat-nya, apabila akibatnya baik kerjakanlah, apabila akibatnya buruk tinggalkanlah.” Riwayat Ibnu Mubarok

Aktivitas adalah sesuatu yang lazim bagi setiap manusia baik bermain, belajar, beribadah maupun bekerja. Akan tetapi dari sekian banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh setiap manusia pasti menimbulkan efek, baik efek positif maupun negatif.

Kedua efek ini dapat ditinjau dengan tinjauan agama, dunia, ataupun akhirat. Apabila menurut ketiganya sudah selaras maka sudah bisa dijadikan tanda bahwa aktivitasnya bernilai positif. Karena ketiga hal di atas adalah tolak ukur yang tidak boleh diabaikan oleh setiap manusia yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan.

Setiap manusia mempunyai kesenangan masing-masing dalam beraktivitas. Kesenangan yang berbeda di dalam beraktivitas karena dipengaruhi adanya akal yang berfungsi untuk membedakan dan hati untuk merasakan apa yang diterima oleh nya.

Akal dan hati merupakan bagian dari panca indra yang paling urgen untuk kehidupan. Ibarat akal, selain berfungsi sebagai pembeda juga masih banyak fungsi-fungsi yang terdapat di dalam akal.

Seperti sebagai penyaring informasi, memikirkan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang berbahaya dan yang bermanfaat, dan lain sebagainya. Ibarat hati, selain berfungsi sebagai perasa juga berfungsi sebagai pusat pengaturan peredaran darah, sebagai pusat keputusan keinginan untuk melakukan suatu perkara, sebagai pusat penyaringan setiap perkara yang diterima dari panca indra lain nya, dan sebagai pusat penggerak anggota badan manusia.

Pada dasarnya manusia hidup tidak dapat mengabaikan semua aktivitas karena aktivitas adalah sesuatu yang lazim baginya. Akan tetapi setiap manusia dapat mengabaikan aktivitas yang tidak disenanginya baik itu yang bersifat mainan, pekerjaan, ataupun yang lain nya.

Antara aktivitas dan kesenangan adalah dua perkara yang senantiasa berkesinambungan pada diri manusia. Pada umumnya manusia tidak akan mau meninggalkan aktivitas yang disenanginya.

Namun meskipun demikian, tidaklah semua aktivitas yang disenangi dan dikerjakan menimbulkan nilai positif bagi nya. Oleh karena itu sangat baik sekali apabila setiap perkara yang hendak dilakukan dipikirkan terlebih dahulu akibat nya.

Memang tidak semua manusia dapat bersikap seperti itu, hal ini karena dipengaruhi adanya perbedaan kemampuan berfikir dan kekuatan hati setiap manusia dalam mengendalikan kesenangannya.

Apalagi jika ia tidak mempunyai untuk menyikapi apa yang sedang dihadapinya, ini juga sangat mempengaruhi keputusan sikap yang diambilnya sehingga kemudian menimbulkan perbedaan sikap antara individu manusia.

Kecerdasan akal, kekuatan hati, dan ilmu memang tiga faktor yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar dapat menyikapi setiap perkara dengan baik. Maksud baik di sini adalah baik menurut pandangan syariat bukan baik menurut keinginan manusia.

Karena baik menurut syariat dan baik menurut keinginan manusia ini mempunyai perbedaan. Adapun perbedaan yang menonjol adalah kalo baik menurut syariat sudah berdasarkan kemaslahatan agama, dunia, dan akhirat nya, akan tetapi kalo baik menurut keinginan manusia belum tentu maslahat untuk agama, dunia, dan akhiratnya.

Walaupun tidak selalu seperti itu, akan tetapi mayoritas nya hanya maslahat satu sisi. Baik itu hanya maslahat untuk agamanya dan map sadat untuk dunianya atau maslahat untuk dunianya saja tapi map sadat untuk agama dan akhirat nya.

Maslahat atau kebagusan agama, dunia, dan akhirat adalah tujuan akhir dari segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap manusia. Ketiga tujuan tersebut dapat diraih ketika aktivitas yang dilakukan oleh manusia didasari dengan kekuatan hati, kecerdasan akal, dan bekal ilmu yang cukup untuk aktivitasnya.

Sekali lagi ketiga faktor ini (hati, akal, dan ilmu) adalah hal yang urgen untuk dimiliki oleh manusia yang ingin hidupnya terhindar dari kerusakan yang disebabkan aktivitas dirinya sehingga ia dapat hidup bahagia.

Kebahagiaan itu sendiri dapat dirasakan apabila dalam beraktivitas menghasilkan nilai yang positif. Karena apabila hasil akhir dari adanya aktivitas bernilai negatif sudah barang tentu akan mempengaruhi psikolog dan semangat beraktivitas.

Kalau sudah seperti itu kondisinya, maka sudah bisa dipastikan bahwa ia akan mengalami putus asa. Padahal di dalam agama islam sendiri melarang manusia berputus asa. Maka dari itu di dalam islam menganjurkan agar memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak. Seperti yang telah dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mubarok yang telah dijelaskan di atas.

Hadits di atas harus diperhatikan agar kita dalam beraktivitas tidak semaunya sendiri, sehingga apa yang kita kerjakan dapat menghasilkan nilai positif dan menumbuhkan kebahagiaan bagi kita semua. Marilah mulai dari sekarang, kita pikirkan terlebih dahulu apa konsekuensi dari segala aktivitas yang hendak kita kerjakan. Apabila akan berakibat baik mari kita kerjakan, dan apabila akan berakibat buruk marilah kita tinggalkan!