Berpuasa Ramadhan dengan Niat Diet, Apa Hukumnya?

·Bacaan 8 menit

Liputan6.com, Jakarta Seluruh umat Islam di dunia tengah menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Puasa menjadi salah satu rukun Islam yang wajib diketahui, diimani, dan diamalkan seorang muslim.

Bagi setiap umat Islam yang menjalankan syariat puasa, maka Allah akan memuliakannya. Puasa dapat kita lakukan bukan semata-mata hanya untuk manfaat akhirat, melainkan untuk manfaat dunia juga.

Salah satu manfaat puasa di dunia yakni puasa dapat menjaga kesehatan tubuh setiap orang dan menjauhkannya dari penyakit. Sedangkan salah satu manfaat untuk akhirat kelak, yakni puasa bisa menjadi tameng dari api neraka.

Selain itu, puasa juga memiliki manfaat dari sisi medis. Bahkan, tidak jarang seseorang menyertakan niat diet dalam menjalankan puasanya. Lalu, bagaimana sebenarnya hukum bagi orang-orang yang berpuasa dengan niat diet?

Hadis riwayat Al-Bukhari menjelaskan bahwa ibadah puasa itu membutuhkan niat. Sehingga, bagi orang-orang yang tidak berniat terlebih dahulu, puasanya tidak sah.

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: "Keabsahan beberapa amal bergantung kepada niat-niatnya." (HR al-Bukhari).

Batas minimal yang mencukupi dalam niat berpuasa yaitu dengan menyebutkan qashdul fi’li dan ta’yin. Qashdul fi’li ini berarti bahwa kita sengaja melakukan puasa, misalnya ‘aku niat berpuasa’.

Sedangkan ta’yin berarti menentukan jenis puasanya, seperti puasa Ramadhan, puasa qadha Ramadhan, puasa kharafat, dan lain sebagainya.

Dalam hadis riwayat Al-Bukhari menjelaskan kewajiban menentukan jenis puasa yang berbunyi.

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: "Dan bagi tiap-tiap orang hanya mendapat pahala sesuai yang ia niatkan."(HR al-Bukhari).

Selain itu, dalam kitab al-Majmu, Al-Imam al-Nawawi berkata.

قال الشافعي والأصحاب لا يصح صوم رمضان ولا قضاء ولا كفارة ولا نذر ولا فدية حج ولا غير ذلك من الصيام الواحب إلا بتعيين النية لقوله صلى الله عليه وسلم " وإنما لكل امرئ ما نوى" فهذا ظاهر في اشتراط التعيين لأن أصل النية فهم اشتراطه من أول الحديث " إنما الأعمال بالنيات

Artinya:

"Imam Syafi’i dan para muridnya berkata; tidak sah puasa Ramadhan, qadha, kafarat, nadzar, fidyah haji, dan puasa wajib lainnya kecuali dengan menentukan niat, karena hadits Nabi: Dan bagi tiap-tiap orang hanya mendapat pahala sesuai yang ia niatkan. Hadits ini jelas dalam menyaratkan penentuan niat, karena dasar pensyaratan niat telah dipaham dari permulaan hadis; Keabsahan beberapa amal bergantung kepada niat-niatnya." (al-Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 6, hal. 294).

Puasa Sunah Dikatakan Sah Bila....

Ilustrasi Membaca Doa Berbuka Puasa Credit: shutterstock.com
Ilustrasi Membaca Doa Berbuka Puasa Credit: shutterstock.com

Penentuan jenis puasa (ta’yin) itu menjadi syarat dalam puasa wajib. Sedangkan puasa sunah akan dikatakan sah apabila dilakukannya dengan niat yang mutlak tanpa menentukan jenis puasanya.

Namun, menurut Imam al-Nawawi hal ini dapat dikecualikan untuk jenis puasa sunah rawatib, yakni puasa yang rutin dilakukan dan memiliki waktu khusus seperti puasa Asyura, Arafah, puasa enam hari Syawal, dan lain sebagainya. Maka di wajibkan untuk menentukan jenis puasanya.

Dalam kitab al-Majmu’ Al-Imam al-Nawawi menegaskan:

وأما صوم التطوع فيصح بنية مطلق الصوم كما في الصلاة هكذا أطلقه الأصحاب وينبغي أن يشترط التعيين في الصوم المرتب كصوم عرفة وعاشوراء وأيام البيض وستة من شوال ونحوها كما يشترط ذلك في الرواتب من نوافل الصلاة

Artinya:

"Adapun puasa sunah, sah dengan niat mutlaknya berpuasa seperti di dalam kasus niat shalat. Hal ini sebagaimana dimutlakan oleh para muridnya Imam al-Syafi’i. Namun, seyogianya disyaratkan menentukan niat di dalam puasa rutin seperti puasa Arafah, Asyura, hari-hari purnama, enam hari Syawal dan semisalnya, sebagaimana disyaratkan hal tersebut dalam shalat sunnah rawatib." (al-Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 6, hal. 295).

Untuk puasa Ramadhan, minimal niat kita dalam melaksanakannya yaitu ‘aku niat berpuasa Ramadhan’ dan niat sempurnanya ‘aku niat berpuasa di esok hari karena menjalankan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah’.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tanpa tata cara niat yang benar, maka puasa orang tersebut dianggap tidak sah. Seperti ketika kita menjalankan puasa Ramadhan namun dengan niat untuk diet ‘aku niat berpuasa karena diet’.

Hukum Jalankan Puasa dengan Niat yang Benar

Atur Makanan Selama Berbuka Puasa ataupun Sahur. (Ilustrasi: iStockphoto)
Atur Makanan Selama Berbuka Puasa ataupun Sahur. (Ilustrasi: iStockphoto)

Lalu, bagaimana hukumnya ketika menjalankan puasa dengan niat yang benar, namun disertai dengan niat lain di luar ibadah itu sendiri?

Hal ini dibagi menjadi dua. Pertama, menurut pendapat ulama apabila kita menyertakan niat diet saat melaksanakan puasa Ramadhan seperti ‘aku niat berpuasa Ramadhan dan diet’, maka puasa yang dijalankan tetap sah. Namun, setiap ulama memiliki pendapatnya masing-masing.

Kedua, apabila seseorang tetap melakukan puasa dengan niat yang benar sesuai fiqih, tetapi tetap memiliki motivasi lain di luar puasa, yakni diet, maka puasa tersebut tetap dianggap sah. Karena puasa telah diniatkan sesuai standar fiqih.

Selain itu, beberapa ulama juga berpendapat tentang pahala yang akan diraih. Al-Imam al-Zarkasyi dan Izzuddin bin Abdissalam mengatakan bahwa tidak akan mendapatkan pahala puasa secara mutlak.

Menurut Syekh Ibnu Hajar, orang yang memiliki tujuan ibadah lebih dominan, berimbang, atau bahkan ditujukan hanya untuk diet tetap akan mendapatkan pahala.

Secara terperinci, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa ketika tujuan diet lebih dominan, maka pahala dari puasa tidak akan didapatkan. Sebaliknya, jika tujuan puasa lebih dominan, maka akan mendapatkan pahala puasa. Namun, jika keduanya berimbang, maka akan saling berguguran. Sebagian ulama juga mengatakan, apabila tujuannya berimbang, pahala tetap didapatkan.

Ikhtilaf tersebut sebagaimana penjelasan dalam referensi sebagai berikut:

تنبيه هذا بالنسبة للصحة، أما الثواب فقال الزركشي الظاهر عدم حصوله. وقد اختار الغزالي فيما إذا شرك في العبادة غيرها من أمر دنيوي اعتبار الباعث على العمل، فإن كان القصد الدنيوي هو الأغلب لم يكن فيه أجر، وإن كان القصد الديني أغلب فله بقدره، وإن تساويا تساقطا. واختار ابن عبد السلام أنه لا أجر فيه مطلقا سواء تساوى القصدان أم اختلفا. وكلام الغزالي هو الظاهر

Artinya:

"Peringatan. Ikhtilaf ini dinisbatkan kepada keabsahan, Adapun pahala, al-Zarkasyi berkata; perkara yang jelas adalah tidak dihasilkannya pahala. Al-Imam al-Ghazali memilih dalam permasalahan mencampurkan niat ibadah dengan perkara duniawi, pertimbangan perkara yang mendorong atas amal. Bila tujuan duniawi lebih dominan (dari pada tujuan ibadah), maka tidak mendapat pahala. Bila tujuan agama lebih dominan (dari tujuan duniawi), maka mendapat pahala sesuai kadarnya. Bila keuda tujuan berimbang, maka saling berguguran. Ibnu Abdissalam memilih bahwa tidak ada pahala secara mutlak, baik kedua tujuan berimbang atau berbeda. Ucapan Imam al-Ghazali adalah pendapat yang jelas."

قوله: (وكلام الغزالي هو الظاهر) وهو المعتمد كما اعتمده م ر في شرحه، بل اعتمد بعضهم حصول الثواب في التساوي أيضا. اهـ. ق ل. وقال ابن حجر: الأوجه أن قصد العبادة يثاب عليه بقدره، وإن انضم إليه غيره مما عدا الرياء ونحوه مساويا بل أو راجحا اهـ. ع ش. فعلى كلام ابن حجر يحصل ثواب مطلقا في جميع الأحوال متى وجد قصد العبادة ولو مغلوبا فتأمل

Artinya:

"Ucapan Syekh Khothib; ucapan Imam al-Ghazali adalah pendapat yang jelas; ini adalah pendapat yang dibuat pijakan seperti yang dipegangi Imam al-Ramli dalam kitab Syarhnya, bahkan sebagian ulama memegangi pendapat hasilnya pahala dalam kasus berimbangnya kedua tujuan. Berkata Imam Ibnu Hajar; menurut pendapat al-Aujah, tujuan ibadah berimbas pahala sesuai kadarnya meski dicampuri tujuan lainnya selain riya’ (pamer), baik kedua tujuan berimbang, bahkan meski tujuan selain ibadah lebih dominan. Dengan demikian, berpijak dari ucapan Ibnu Hajar, pahala dapat dihasilkan secara mutlak di setiap kondisi selama tujuan ibadah ditemukan, meski dikalahkan oleh tujuan duniawi. Maka berangan-anganlah”. (Syekh Khothib al-Syarbini dan Syekh Sulaiman al-Bujairimi, al-Iqna’ dan Tuhfah al-Habib, juz 1, hal. 136).

Dalam referensi yang lain, Syekh Ibnu Ziyad cenderung sepakat dengan pendapat al-Imam al-Ghazali. Berikut keterangannya:

)مسألة( تصدق على سائل ملحّ ولو ترك الحاجة لم يعطه، لكن نوى عند التصدق وجه الله تعالى، فهذا قريب من نية التبرد مع نية رفع الحدث، والظاهر كما قال السمهودي ما حققه الغزالي من أنه إذا قارن نية العبادة باعث آخر فلا يخلو إما أن يكون موافقاً أو مقارناً أو مشاركاً، فالموافق كمن له غرض في الصوم والحمية الحاصلة من الصوم للتداوي، وكل منهما لو انفرد لاستقل، فهذا يرجى أن يثاب لكن لا يقع موقع الرضا.

Artinya:

"Sebuah permasalahan. Jika seseorang bersedekah kepada orang yang meminta-minta dengan sangat/ menekan, sekiranya peminta-minta meninggalkan kebutuhannya, maka pemberi sedekah tidak memberinya, namun saat bersedekah, ia niat tulus karena Allah, maka permasalahan ini dekat dengan permasalahan niat mengambil kesegaran disertai niat menghilangkan hadats. Pendapat yang jelas sebagaimana ucapan al-Samhudi adalah apa yang dinyatakan oleh al-Imam al-Ghazali bahwa; bila niat ibadah disertai tujuan/ motivasi lain, maka adakalanya motivasi lain itu bertepatan, bersamaan atau mencampuri.

Contoh tujuan lain yang bertepatan seperti orang berpuasa yang memiliki tujuan puasa dan menghindari penyakit yang dihasilkan dari puasa karena berobat. Masing-masing dari dua tujuan tersebut bisa menyendiri jika dipisahkan, yang demikian ini diharapkan tetap mendapat pahala namun tidak sampai pada derajat ridha."

...إلى أن قال.... ويتلخص من كلامه في مواضع أخر أنه إذا كان الباعث الدنيوي هو الأغلب فلا ثواب، أو الديني فله ثواب بقدره، وإن تساويا تساقطا،

Artinya:

"Disimpulkan dari ucapan al-Imam al-Ghazali di beberapa tempat bahwa bila tujuan duniawi lebih dominan, maka tidak ada pahala. Bila tujuan agama lebih dominan, maka mendapat pahala sesuai kadarnya. Bila kedua tujuan berimbang, maka saling berguguran." (Syekh Ibnu Ziyad, Ghayah Talkhish al-Murad, hal. 50).

Walhasil, berpuasa dengan motivasi melakukan diet hukumnya tetap sah sepanjang niat puasa tetap dilakukan sesuai aturan fiqih. Adapun pahala puasa, ulama ikhtilaf sebagaimana penjelasan di atas.

Dengan demikian, hendaknya motivasi utama dalam menjalani ibadah puasa adalah berpuasa atas dasar mengikuti perintah agama, agar pahala berpuasa lebih terjamin dan kualitas puasa menjadi semakin berkualitas di sisi-Nya.

Cinta Islamiwati

Saksikan video pilihan di bawah ini: