Bersamaan Masa Panen Raya, Petani Tuban Tolak Impor Beras

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Rencana pemerintah impor beras 1 juta ton menuai protes petani di Tuban. Sebab, rencana tersebut dilakukan bersamaan dengan masa panen raya yang bisa menimbulkan harga beras anjlok di tingkat petani.

Pengurus DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tuban menolak rencana impor beras karena produk beras masih mengalami surplus. Keputusan itu diambil setelah koordinasi dengan sejumlah pihak termasuk dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pemerintah setempat.

“Hasil panen yang melimpah ini membuktikan bahwa Kabupaten Tuban tidak lagi membutuhkan impor beras,” kata Ketua DPC HKTI Tuban Aris Yuli Setianto, Jumat (19/3/2021).

Ia menjelaskan, setiap tahun hasil produksi padi di Tuban selalu surplus berdasarkan survei di lapangan dan mengacu data statistik Dinas Pertanian Tuban. Artinya hasil panen padi di Tuban selalu lebih.

“Di 2020 produksi hasil padi mengalami surplus sebesar 268.778 ton (63,54 persen). Pada bulan Januari 2021 total produksi padi meningkat sebesar 5.777 ton. Setelah dihitung, produksi pada Bulan Januari itu mengalami surplus sekitar 31,01 persen,” ungkapnya.

Pda Februari tahun ini total produksi yang dihasilkan mencapai 21.717 ton. Di bulan kedua tersebut mengalami surplus sekitar 62,82 persen.

“Berarti setiap bulan hasil produksi padi di Kabupaten Tuban selalu surplus,’’ tambah Ketua HKTI Tuban usai melakukan koordinasi bertempat di wilayah Kecamatan Widang, Tuban.

Jagung Juga Surplus

Selain padi, ia menerangkan ketersediaan komoditi jagung juga konsisten. Selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hasil produksi Jagung di Kabupaten Tuban tiap Tahunnya rata-rata surplus 693.163 ton.

“Melimpahnya hasil panen di Tuban ini berhasil mengantarkan Kabupaten Tuban masuk dalam jajaran 6 Kabupaten atau Kota sebagai lumbung pangan Jawa Timur dan Nasional,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan hasil panen yang mengalami surplus besar ini menjadi bekal penting bagi Kabupaten Tuban untuk menghadapi krisis pangan global akibat Covid-19 yang diprediksikan Organisasi Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO). Sehingga, produk beras masih mengalami surplus harus mampu mensejahterakan para petani.

“Melimpahnya hasil pertanian di Kabupaten ini harus mampu mengangkat kemakmuran para petani,” pungkasnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: