Bersarung tangan dan bermasker, penghitung surat suara AS tetap fokus kepada tugas bersejarah

·Bacaan 3 menit

Atlanta (AFP) - Jika terjadi di lain waktu, apa yang tengah mereka lakukan mungkin sepertinya tidak seberapa, mungkin semacam urusan kantor biasa.

Tapi pertaruhannya tidak bisa lebih tinggi ketika pada Kamis para pekerja bermasker dan bersarung tangan berdiri di atas meja lipat untuk memverifikasi dan menghitung, satu per satu, surat suara pemilihan presiden AS yang tersisa yang belum dihitung.

Dunia sedang menyaksikan dan tentu saja, ada tim kampanye Presiden Donald Trump dan calon presiden dari Demokrat Joe Biden bersama dengan tim pengacara mereka.

Sejumlah besar jurnalis dari seluruh dunia berkumpul, mengintai ruang untuk merekam apa yang akan menjadi momen bersejarah.

Seringkali tidak banyak yang bisa dilihat, hanya para pekerja yang menjalankan tugas mereka, pasti dan tabah, berpakaian santai, kadang-kadang dengan lanyard (tali tanda pengenal diri) dan ID di leher mereka.

Mereka menyiapkan jalan melewati gunungan surat suara via pos yang dikirim yang adalah metode yang disukai banyak pemilih tahun ini karena pandemi virus corona, memeriksa validitasnya, kemudian menyortir dan memasukkannya ke mesin hitung.

Jumlah surat suara via pos yang dikirim adalah alasan adanya peringatan berulang-ulang menjelang pemilu Selasa bahwa prosesnya bisa lebih lama tahun ini dan akan membutuhkan kesabaran, prediksi yang terbukti akurat.

Di beberapa kota, seperti Philadelphia, pengunjuk rasa berkumpul di luar pusat penghitungan dan tim Trump mendesak akses lebih besar untuk mencari, tanpa disertai bukti, untuk menyebarkan keraguan lebih terhadap proses itu ketika Biden bergerak ke titik puncak guna mendapatkan suara elektoral yang cukup untuk menang.

Ada segelintir pengunjuk rasa pada siang hari Kamis di Atlanta, Georgia, sebuah kota besar di Amerika selatan dan salah satu kota yang memiliki sejarah aktivisme Afrika-Amerika yang membanggakan sebagai tempat kelahiran Martin Luther King Jr.

Georgia secara tak terduga menjadi pusat perhatian setelah Biden tampil sangat baik di basis Republik itu sehingga menjadi calon kuat untuk merebut 16 suara elektoral di negara bagian ini.

Jika dia menyalip Trump dalam surat suara tersisa, dia akan menjadi calon presiden pertama dari Partai Demokrat yang memenangkan negara bagian ini sejak Bill Clinton pada 1992.

Namun demikian, ada suasana santai dan hampir biasa-biasa saja saat para penghitung suara fokus bekerja di arena yang biasanya menjadi kandang tim bola basket NBA Atlanta Hawks itu.

Para pejabat membela pekerja dari upaya menyebarkan keraguan selama proses tersebut.

Gabriel Sterling dari kantor sekretaris negara bagian Georgia, yang mengawasi penyelenggaraan pemilu, membahas selisih kecil antara dua calon presiden di negara bagiannya dan berkata "kami mengetahui fakta itu."

"Dan pejabat-pejabat pemilihan daerah merasakan tekanan itu. Mereka memahami. Mereka bekerja keras," kata dia di gedung DPR negara bagian tersebut.

"Saya angkat topi kepada mereka karena tengah melalui proses ini dan berada di bawah pengawasan setinggi ini."

Dengan tegas dia menambahkan bahwa mereka "tidak terlibat dalam penipuan pemilih. Orang-orang ini tak terlibat dalam pencurangan pemilih."

Sterling mengatakan Kamis pagi bahwa sekitar 60.000 suara masih harus dihitung.

Di sisi lain negara bagian di kawasan Las Vegas yang lebih sering dikenal sebagai kiblat perjudian negara itu, para pekerja bersarung tangan dipisahkan satu sama lain oleh sekat kaca memasukkan hasil surat suara ke mesin hitung yang merupakan salah satu dari rangkaian langkah dalam proses verifikasi dan tabulasi suara.

Ada juga beberapa pengunjuk rasa Kamis di sana yang terletak di Nevada, negara bagian lain yang tetap terlalu tipis untuk disimpulkan siapa pemenangnya dua hari setelah pemilu.

Joe Gloria, pencatat pemilih untuk Clark County, yang mencakup Las Vegas, tampak agak tergesa-gesa ketika dia menjelaskan kepada wartawan mengenai pekerjaan yang tersisa dan berbicara sambil mengenakan masker.

Namun ada juga pengingat bahwa meskipun penghitungan bisa tampak menjemukan dan membosankan, ada ketegangan yang berat yang mendasari penghitungan itu.

Gloria ditanya soal protes Rabu malam dan apakah dia merasa aman.

"Saya bisa memberitahu Anda bahwa istri dan ibu saya sangat memperhatikan saya, tetapi kami di sini aman," kata dia.

"Saya merasa aman. Kami akan baik-baik saja. Kami akan terus menghitung. Kami tidak akan membiarkan siapa pun menghentikan kami melakukan tugas kami dalam menghitung surat suara."