Berselisih, Vietnam Musuhi Buah-Buahan dari Cina

Oleh: CHRIS BRUMMITT | Associated Press

Jack Nguyen telah berhasil menjual 20 dari 30 kontainer anggur Amerika impor ketika sebuah rumor beredar di internet dan media pemerintah. Rumor itu berbunyi, buah impor Cina yang dijual di Vietnam mengandung pengawet dan pestisida dengan kadar mematikan.

Gara-gara rumor itu, 10 sisa kontainer anggur pun membusuk karena tak ada konsumen yang mau membeli.

Meski kekhawatiran terhadap makanan asal Cina kerap terjadi di mana-mana, kasus yang terjadi di Vietnam agak beda sebab di negara itu, ada sentimen anti-Cina. Masa pendudukan lebih dari 1.000 tahun, perang brutal perbatasan pada 1979, dan kebijakan Cina dalam menekan klaim teritorial di Laut Cina Selatan mungkin menyebabkan itu semua.

Pemerintah Vietnam mencoba menghentikan kritik langsung terhadap Cina, atau diskusi hubungannya dengan Beijing, karena rentan mendapat tuduhan dari kaum nasionalis dan aktivis demokratis sebagai negara yang tidak memiliki keberanian menghadapi negara sesama komunis.

Akibatnya, kemarahan terhadap Cina muncul dalam bentuk perilaku konsumen di pasar ekonomi.

Nguyen berkata bahwa penjualan di perusahaannya, salah satu importir buah terbesar di negara itu, mengalami penurunan hingga $6 juta (sekitar Rp58,26 miliar) tahun lalu dari $11 juta (sekitar106,82 miliar) pada 2011. Meski ia dan importir lainnya mengatakan bahwa perlambatan ekonomi di Vietnam adalah penyebabnya, dia mengeluhkan seringnya pemberitaan media tentang buah beracun yang mencekik usahanya, bahkan untuk orang-orang seperti dirinya yang tidak lagi mengimpor buah dari Cina.

“Media hanya ingin berita mereka laku. Saat ini jika Anda menulis sebuah artikel tentang produk Cina, Anda langsung mendapatkan jutaan pembaca secara online,” katanya melalui telepon. “Kami banyak merugi hanya karena seseorang menulis seperti itu.”

Perusahaan Cina yang menjual game komputer dan program chatting menghadapi boikot online dari aktivis anti-Cina. Pada Desember, Paulo Thanh Nguyen meluncurkan sebuah situs dengan nama ‘No China Shop’, yang hanya menjual barang-barang yang dibuat di Vietnam – pakaian anak, sepatu, dan sayuran – dan menawarkan sumber lainnya.

Dia mengatakan bahwa penjualannya bagus, tetapi keputusannya meluncurkan bisnis tersebut layaknya menyebarkan dan memanfaatkan kemarahan terhadap Cina sambil meraup keuntungan.

“Produk buatan Cina membunuh ekonomi Vietnam dan Vietnam bisa menjadi budak ekonomi Cina,” katanya. “Saya ingin turun tangan mencegah hal ini.”

Ketegangan teritorial mulai terasa dalam sektor perdagangan di wilayah tersebut.

Hubungan buruk Cina-Jepang atas kepulauan yang diperebutkan tahun lalu telah menyebabkan penurunan terhadap permintaan mobil, make-up, dan pemakaian perangkat elektronik buatan Jepang pada konsumen Cina. Investor Jepang yang cemas tidak mundur dari Cina, tetapi meningkatkan investasi di tempat lain di Asia untuk melindungi nilai saham dari pergolakan yang lebih parah.

Sebuah restoran di Beijing baru-baru ini memasang tanda yang bertuliskan bahwa orang Vietnam, Jepang, Filipina (yang pemerintahnya juga menentang klaim Cina) dan anjing tidak diperkenankan masuk. Pemilik restoran, yang hanya menyebutkan namanya dengan Wang, mengatakan bahwa ia memasang tanda tersebut untuk “meluapkan kemarahan saya” terkait sengketa pulau tapi kemudian melepas kembali tanda tersebut setelah ditanya wartawan.

Terlepas pemberitaan buruk tentang buah-buahan impor tersebut, Cina masih tetap menjadi mitra dagang terbesar Vietnam.

Bisnis di antara kedua negara telah meningkat sejak mereka memperbaiki hubungannya pada 1991. Perdagangan antara kedua negara tersebut mencapai $35,7 miliar (sekitar Rp346,93 triliun) tahun lalu, lebih dari tiga kali lipat dari jumlah pada 2006, menurut pemerintah. Barang-barang murah Cina mendominasi pasar. Banyak pabrik membuat barang-barang untuk diekspor harus terlebih dulu mengimpor bahan baku dari Cina.

Buah dan sayur impor dari Cina sangat rentan diprotes konsumen karena Cina dikenal sebagai negara dengan makanan yang tidak sehat, menggunakan pestisida berlebihan, dan lemahnya pengawasan, mulai dari produk susu bayi, buah kering, hingga daging. Baru-baru ini, masyarakat kelas menengah Vietnam, semakin khawatir mempertanyakan asal dan kualitas makanan yang mereka konsumsi.

Cina merupakan salah satu eksportir buah dan sayuran terkemuka di dunia, dan semakin menguasai pangsa pasar dari produsen Amerika Serikat di pasar Asia. Cina memproduksi lebih banyak apel daripada negara lainnya. Tidak ada angka pasti berapa banyak hasil lahan yang diimpor ke Vietnam.

Buah Cina seringkali lebih murah daripada buah Vietnam dan menawarkan lebih banyak variasi.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.