Bersiap dengan Skenario Terburuk, Menkes Imbau Masyarakat Waspada terhadap Omicron

·Bacaan 2 menit
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menjadi pembicara dalam webinar Hari Puncak Pekan Menyusui Sedunia 2021 dengan tema Perlindungan Menyusui: Tanggung Jawab Bersama, Rabu (25/8/2021).

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan mencatat, total pasien COVID-19 dengan varian Omicron kini menjadi 47 kasus dengan rincian 46 kasus impor, dan satu transmisi lokal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan sejumlah strategi yang dilakukan pemerintah guna menekan lonjakan varian Omicron ini.

“Kita harus siap-siap the worst, tracing, isolasi, karantina. Vaksinasi juga harus dipercepat untuk mencegah penularan dan masuk rumah sakit,” katanya, dalam acara podcast bersama Deddy Corbuzier, Selasa (28/12/2021).

Meski demikian, Budi mengatakan masyarakat tidak perlu panik sebab menurut penelitian kemungkinan kasus Omicron ini lebih ringan dibandingkan Delta. Sehingga bagi penyintas COVID-19 dan mereka yang telah divaksinasi masih memiliki kekebalan terhadap varian ini.

“Kita enggak boleh paranoid. Omicron ini masuk Desember, mungkin ujiannya nanti di akhir Januari atau 2 minggu setelah tanggal 1 Januari. Jadi waspada deh,” kata Budi.

Pentingnya Vaksinasi

Vaksinasi COVID-19 bukan hanya bisa melindungi diri sendiri dari varian virus SARS-CoV-2 melainkan juga orang sekitar. Vaksinasi juga menghindari orang masuk rumah sakit dan meninggal dunia.

“Vaksinasi bisa mengurangi masuk rumah sakit dan kematian. Kalau tertular mungkin iya, tapi mau selamat enggak,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya pemerintah berupaya untuk memberikan booster vaksin ketiga untuk meningkatkan imunitas khususnya terkait Omicron. Namun, aturan ini masih dibahas. Jika sebelumnya vaksin booster diberikan pada seluruh tenaga kesehatan maka tahun depan akan diprioritaskan pada lansia.

Tes PCR

Menkes pun menjawab pertanyaan terkait informasi yang menyebut virus SARS-CoV-2 varian Omicron tidak terdeteksi dalam tes COVID-19 PCR. Ia mengatakan pernyataan tersebut keliru.

"Semua pemeriksaan dilakukan dengan PCR. Sekarang 4-6 jam keluar hasilnya. Hanya jika pemeriksaannya positif, pasien akan diminta tes dengan metode S-gene target failure (SGTF). Untuk keluar variannya, pakai tes lain namanya Whole Genome Sequencing. Ini lebih susah karena cuma ada di 12 laboratorium dan harus bener-bener ahli yang ngerjain. Hasilnya 3-5 hari," jelasnya.

Inilah yang menjadi kendala karena dalam kurun waktu tersebut, virus bisa menyebar dengan cepat. Untuk itu, pemerintah memperketat karantina.

"Kalau bisa (karantina) dipisahin lebih ketat. Supaya tahu pola penyebarannya ke mana. Sekarang masih di Wisma atlet, belum keluar. Nanti kalau keluar, beda strategi penangananya," jelasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak berlibur ke luar negeri mengingat lonjakan Omicron di berbagai negara.

"Tetap waspada, pakai masker, percepatan vaksinasi, enggak usah ke luar negeri dulu," pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel