Bersiap Hadapi Erupsi Gunung Merapi

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi menjadi siaga (level III) dari waspada (level II).

Peningkatan status Gunung Merapi ini berdasar hasil pemantauan BPPTKG yang menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke erupsi.

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida menerangkan Gunung Merapi kembali memasuki fase intrusi magma baru yang ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan rangkaian letusan eksplosif sampai dengan 21 Juni 2020.

Usai letusan eksplosif 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu VA, vulkanik dangkal (VB) dan fase banyak (MP) mulai meningkat. Selain itu juga terjadi pemendekan jarak baseline EDM (Electronic Distance Measurement) sektor Barat Laut Babadan-RB1 sebesar 4 sentimeter.

"Sehubungan dengan hal tersebut maka status aktivitas Gunung Merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) berlaku mulai tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB," ujar Hanik dalam keterangan pers kepada awak media yang dilakukan secara daring, Kamis, 5 November 2020.

Pemendekan jarak terus berlangsung dengan laju sekitar 3 mm/hari sampai September 2020. Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, guguran (RF) 57 kali/hari, embusan (DG) 64 kali/hari.

"Laju pemendekan EDM Babadan mencapai 11 sentimeter per hari. Energi kumulatif gempa (VT dan MP) dalam setahun sebesar 58 Giga Joule. Kondisi tersebut sudah melampaui kondisi menjelang munculnya kubah lava 26 April 2006, tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi sebelum erupsi 2010," ungkap Hanik.

Meski demikian, berdasarkan pemantauan udara, sampai dengan dinaikkannya status Merapi ini, tidak terlihat adanya kubah lava baru.

Meski begitu aktivitas vulkanik terus meningkat hingga saat ini. Kondisi tersebut dapat memicu terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif.

"Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awan panas sejauh 5 km," tambah Hanik.

Ada empat kabupaten yang berpotensi terdampak Gunung Merapi. Keempat kabupaten ini adalah Kabupaten Sleman yang berada di DIY serta Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten yang ada di Jawa Tengah.

Untuk wilayah prakiraan daerah bahaya di Kabupaten Sleman, DIY meliputi wilayah Kapanewon (Kecamatan) Cangkringan, Kabupaten Sleman. Daerah ini meliputi Padukuhan Kalitengah Lor (Kalurahan Glagaharjo), Kaliadem (Kalurahan Kepuharjo) dan Pelemsari (Kalurahan Umbulharjo).

Sedangkan untuk Kabupaten Magelang, Jawa Tengah prakiraan bahaya ada di Kecamatan Dukun. Meliputi Desa Ngargomulyo dengan Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar. Sementara untuk di Desa Krinjing meliputi Dusun Trayem, Pugeran, Trono. Sedangkan di Desa Paten meliputi Dusun Babadan 1 dan Babadan 2.

Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah prakiraan terdampak berada di tiga desa di Kecamatan Selo. Yaitu Desa Tlogolele yang meliputi Dusun Stabelan, Dusun Takeran, Dusun Belang. Di Desa Klakah meliputi Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur. Selanjutnya di Desa Jrakah Jarak, Sepi.

Sedangkan di wilayah Klaten prakiraan bahaya ada Kecamatan Kemalang. Diantaranya meliputi wilayah Desa Tegal Mulyo yaitu di Dusun Pajekan, Canguk, Sumur. Di Desa Sidorejo yaitu di Dusun Petung, Kembangan, Deles. Terakhir di Desa Balerante meliputi Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang.

Di samping itu, BPPTKG merekomendasikan penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III dihentikan.

Selain itu wisatawan diimbau tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Terakhir, Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segara sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

Hari-Hari Mendebarkan

Belum terlihat kubah lava di Kawah Gunung Merapi, Kamis pagi (5/11/2020). (Foto: Liputan6.com/Wisnu Wardhana)
Belum terlihat kubah lava di Kawah Gunung Merapi, Kamis pagi (5/11/2020). (Foto: Liputan6.com/Wisnu Wardhana)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengerahkan tim BPBD ke lokasi untuk siaga melakukan tindakan awal penanggulangan di Klaten, Boyolali dan Magelang.

"BPBD sudah bergerak ke Klaten karena sudah diperhitungkan arahnya erupsinya ke sana (Klaten). Tapi yang di Magelang dan Boyolali kami minta tetap siaga," kata Ganjar di Semarang.

Dia menyebut untuk tempat pengungsian, pihaknya sudah melakukan koordinasi BPBD dan Bupati Wali Kota daerahnya. Tempat pengungsian bisa memanfaatkan gedung sekolah yang masih kosong. Nantinya tempat pengungsian bagi warga yang terdampak erupsi diminta petugas memperhatikan protokol kesehatan mengingat ini masih pandemi Covid-19.

"Kami sudah pastikan tempat pengungsian sudah tersedia dengan baik. Jadi warga yang menempati tempat pengungsian dengan menerapkan jaga jarak, cuci tangan dan memakai masker. Selain itu memastikan logistik aman," ungkapnya.

Warga diminta tidak panik dengan peningkatan status siaga Merapi. Namun semuanya diminta tetap waspada guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Warga tidak usah panik, tapi tetap waspada. Saya kira masyarakat terdekat pasti sudah sangat paham soal ini, hanya kita tinggal bersama-sama saling mengingatkan dan saling memantau. Siapkan alat transportasi dan barang berharga agar bisa dibawa ke tempat pengungsian jika terjadi erupsi," ujarnya.

BPBD dan tim kebencanaan lain diminta terus memantau perkembangan Gunung Merapi agar bisa memberikan informasi sedini mungkin pada masyarakat. Seluruh peralatan peringatan dini atau early warning system (EWS) yang ada harus dihidupkan dan dipantau semuanya.

"Kalau yang tidak ada EWS-nya, maka yang sifatnya tradisional harus disiapkan. Saya minta seluruh aparatur pemerintahan sampai tingkat desa hingga RT RW yang ada di sana untuk siaga membantu warganya," jelasnya.

Bersiap Hadapi Erupsi

Sementara, warga di sejumlah desa di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, disiapsiagakan untuk menghadapi dampak erupsi Gunung Merapi yang setiap saat bisa terjadi.

Kepala Desa Jrakah, Kecamatan Selo Tumar di Boyolali, mengaku telah mengumpulkan tim siaga desa untuk pembekalan dan sosialisasi terkait dengan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi peningkatan status aktivitas vulkanik Gunung Merapi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang berkantor di Yogyakarta.

Ia mengatakan tentang pentingnya masyarakat di kawasan Gunung Merapi tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi.

Jika sewaktu-waktu Merapi erupsi, katanya, masyarakat sudah harus siap dengan berbagai perbekalan, termasuk surat-surat penting, untuk mengungsi. Kesiagaan itu, terutama bagi mereka yang tinggal di dusun yang masuk kawasan rawan bencana. Sejumlah pedukuhan di Desa Jrakah yang masuk KRB III, yakni Sepi, Sumber, Jarak, dan Jrakah.

"Mereka, suatu saat terjadi erupsi tinggal membawa bekalnya atau tas koper ke tempat pengungsian," katanya.

Terkait dengan pengungsian, Pemerintah Desa Jrakah sudah menjalin kerja sama Program Desa Persaudaraan dengan Desa Karanggeneng, Kabupaten Boyolali. Jika Merapi sewaktu-waktu erupsi, warga Jrakah mengungsi ke Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali. Namun, evakuasi warga ke pengungsian harus menunggu instruksi Pemkab Boyolali.

Mulai Mengungsi

Sejumlah wisatawan melintas di dekat salah satu tempat penjual foto kejadian erupsi merapi Oktober 2010 di kawasan Gunung Merapi, Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta. (Antara)
Sejumlah wisatawan melintas di dekat salah satu tempat penjual foto kejadian erupsi merapi Oktober 2010 di kawasan Gunung Merapi, Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta. (Antara)

Sementara sebagian warga yang tinggal di beberapa desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mulai mengungsi, Jumat (6/11/2020).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto mengatakan, semalam ada kesepakatan dari aparat Desa Paten, Krinjing, dan Ngargomulyo di Kecamatan Dukun untuk mulai mengungsikan sebagian warga guna meminimalkan dampak jika Gunung Merapi meletus.

"Hal ini bisa dipahami, karena status Merapi menjadi siaga ditetapkan kemarin jam 12.00, kalau sore hari mereka mengungsi belum cukup siap secara psikologi, dan baru hari ini baru bisa dilakukan evakuasi," katanya.

Edy menjelaskan, konsep Desa Bersaudara dijalankan dalam pengungsian warga di desa-desa yang ada di sekitar Gunung Merapi.

Dalam hal ini desa-desa yang berada di kawasan rawan bahaya dipersaudarakan dengan desa-desa penyangga di dekatnya, yang antara lain akan menjadi tempat warga desa di kawasan rawan bahaya mengungsi.

Warga dari Desa Paten bisa mengungsi ke Desa Banyurojo di Kecamatan Mertoyudan, warga Desa Ngargomulyo bisa mengungsi ke Tamanagung di Kecamatan Muntilan, dan warga Desa Krinjing bisa mengungsi ke Desa Deyangan di Kecamatan Mertoyudan.

"Jadi mereka mengungsi bukan diungsikan, karena konsep Desa Bersaudara adalah pemberdayaan masyarakat, konsep manajemen pengungsian berbasis masyarakat itu berangkat dari pengalaman tahun 2010, sehingga dengan ini lebih tertata," kata Edy.

Dia menjelaskan bahwa saat ini warga di Desa Krinjing sudah mulai mengungsi. Warga yang bergerak menuju tempat pengungsian utamanya mereka yang termasuk dalam kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, orang sakit, warga lanjut usia, dan penyandang disabilitas.

Menurut Edy, pada Jumat ada 50 warga Dusun Trono, 50 warga Dusun Trayem, dan 60 warga Dusun Pugeran di Desa Krinjing yang mengungsi ke Desa Deyangan di Kecamatan Mertoyudan.

"Mereka mengungsi dengan kendaraan sendiri, disiapkan enam unit mobil kemudian dikawal oleh ambulans. Memang konsepnya seperti itu, setiap kali perjalanan ada yang mengawal ambulans dan dari Polsek serta Koramil," kata Edy.

Saksikan video pilihan di bawah ini: