Bersyukur Atas Jalan Tuhan yang Membuatnya Ditolak Arsenal

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 1 menit

VIVA – Gelandang Crystal Palace, Eberechi Eze kini bisa mengambil hikmah dari usaha ketika masih kecil. Bagaimana sulitnya dia menerima kenyataan dicoret oleh Arsenal.

Eze yang pernah menimba ilmu di akademi Arsenal merasa yakin bisa terus berkembang di sana. Namun, pada 2011 The Gunnaers memilih untuk melepaskannya.

Kemudian dia bergabung dengan tim muda Fulham. Lalu berlabuh dengan Reading, sampai akhirnya pada 2014 masuk dalam tim U-18 Millwall.

Dua tahun berselang, pinangan datang dari Queens Park Rangers untuk bergabung ke tim U-23. Semusim kemudian dia promosi ke tim utama dan bisa bermain.

Sempat dipinjamkan ke Wycombe selama semusim, lalu dia bisa mendapat kepercayaan di tim utama. Baru di musim panas 2020 ini, Crystal Palace merekrutnya.

Eze bercerita bagaimana dia dan ibunya menangis mengetahui Arsenal melepaskannya dari tim. Sebab, sejak awal dia merasa yakin di usia 16 tahun bisa bersinar di sana.

"Saya dibina oleh beberapa klub dan saat itulah saya pertama kalinya gabung ke Arsenal. Di usia muda, itu jelas sulit, terutama ketika saya dilepas. Saya dan ibu menangis, dan semau rang sangat kesal," tutur Eze, dikutip dari Tribal Football.

Sekarang Eze sudah tak terlalu memikirkan semuanya. Masa pahit harus berpindah klub di masa kecil telah membuahkan hasil positif. Dia bisa bermain di Premier League pada usia 22 tahun.

"Saya bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang telah terjadi. Jika bukan karena itu, saya mungkin tidak memiliki daya tahan dan keberanian untuk terus berjuang dan menjadi siapa saya," kata Eze.

Eze juga sudah merasakan berseragam Timnas Inggris U-20 dan U-21. Total dia sudah tampil dalam sembilan pertandingan.