Bertambah jadi 65 Positif COVID-19 di Ponpes Bina Madani Bogor

·Bacaan 2 menit

VIVA – Jumlah santri yang positif COVID-19 di Pondok Pesantren Ma'had Tahfizh Al-Quran dan Bahasa Arab Bina Madani, Harjasari, Kota Bogor, bertambah 33 orang. Sehingga kini menjadi 65 orang positif Corona.

Sebanyak 57 diisolasi di Pusat Isolasi COVID-19 Kota Bogor BPKP Ciawi, dan 8 orang diisolasi di rumahnya oleh pihak keluarga.

Penambahan tersebut merupakan hasil test swab PCR massal, yang dilakukan pada Minggu 6 Juni 2021. Dari total 65 kasus positif saat ini, sudah ada 56 orang yang dilakukan perawatan di BPKP Ciawi. Sedangkan 8 orang diisolasi di rumah, serta 1 orang masih di pesantren dan sedang dilakukan proses evakuasi.

Baca juga: Amankan Jagad Maya, Pemerintah Bakal Bikin Omnibus Law Digital

"Hari ini kita mendapatkan update dari 454 orang yang sudah kita lakukan swab test PCR, ada 33 santri yang terkonfirmasi positif. Jadi menambah dari yang sebelumnya ada 32 santri. Dimana diantaranya sudah kita pindahkan ke pusat isolasi di BPKP Ciawi," kata Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim di Balai Kota Bogor.

Dedie merinci, dari 33 kasus penambahan tersebut, 20 merupakan santri putra. Dan sisanya adalah 13 santri perempuan.

Dengan bertambahnya kasus tersebut, Dedie ingin tetap memastikan kegiatan di ponpes tersebut ditutup dan ditiadakan sementara. Termasuk kegiatan peribadatan, yang melibatkan warga dikurangi atau bahkan dibatasi.

"Kemudian juga kita sedang melakukan tracing lagi untuk mereka yang melakukan kontak erat kepada para santri. Terutama selama dalam proses perjalanan dari daerah asal masing-masing sampai ke Bogor," jelas Dedie.

Diketahui sebelumnya, terdapat 453 orang penghuni Pondok Pesantren Bina Madani. Jumlahnya terdiri atas 176 orang santri putri, 222 orang santri putra, pengurus putri 34 orang, dan pengurus putra 21 orang.

Dedie juga menyinggung dengan adanya kasus ini, berpengaruh besar dengan proses uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang saat ini masih berlangsung. Hal itu yang kemudian menjadi kekhawatiran saat ini.

"Sekarang terbukti kalau kita tidak hati-hati, tidak ada prokes ketat, risikonya ada paparan. Baik di jalan, kendaraan umum, tempat asal, dan lain-lain," jelas Dedie.

Untuk itu, sekarang ini Pemerintah Kota Bogor berupaya untuk meminimalisir potensi paparan dan penyebaran COVID-19 di wilayah.

"Langkah-langkah yang cepat agar menghindarkan bertambahnya jumlah warga yang terkena COVID-19," ujar Dedie.

Terpisah, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Kota Bogor, Bima Arya menyatakan, 33 santri yang baru diketahui terkonfirmasi positif segera diisolasi dan pesantren segera ditutup sementara. Termasuk membatasi kegiatan dengan prokes untuk menghindari penularan.

"Kita siapkan logistik, posko gabungan, vitaminnya dan sebagainya," kata dia.

Dari dua klaster COVID-19 (Griya Melati dan Bina Madani) kata Wali Kota Bogor ini, maka dapat disimpulkan penularan itu terjadi akibat perjalanan dari luar kota.

Untuk itu, ia memerintahkan lurah dan camat mendata mana saja pesantren yang akan melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag).

"Diakukan tes PCR semua sebelum tatap muka," jelasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel