Bertangan besi ingin berkuasa sampai mati

MERDEKA.COM. Seperti inilah nasib para penentang Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin. Dipecat.

Korbannya antara lain Ketua Departemen Kewanitaan PKS Nursanita Nasution. Dia diberhentikan dari jabatannya setelah mendesak Hilmi soal uang dari Wiranto dalam musyawarah tiga lembaga tinggi di Jakarta. Ketika itu, Hilmi menjawab secara politis secara resmi partai belum pernah mendapatkan uang dari Wiranto. "Pertanyaannya, secara enggak resmi?" kata Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan sebelum berganti nama menjadi PKS, saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Jalan lapan V nomor 28, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin malam pekan lalu.

Pada putaran pertama pemilihan presiden 2004, Hilmi mendukung pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid. Padahal, 70 persen anggota majelis syuro memutuskan menyokong pasangan Amien Rais-Siswono Yudohusodo. Setelah kandidat ini takluk, Hilmi mengalihkan dukungan kepada duet Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla, di babak penentuan.

Karena dianggap melawan, Nursanita dilengserkan dari posisinya. "Yang memecat bukan dia, orang lain tapi disuruh dia," ujar Yusuf.

Kemudian Muhammad Haikal. Dia kehilangan posisinya sebagai anggota Dewan Syariah PKS Wilayah DKI Jakarta karena mengirim pesan pendek kepada Mahfudz Siddik, Fahri Hamzah, dan Andi Rahmat, anggota Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat untuk kasus Bank Century. Di antara isinya harus tetap konsisten membela dakwah, tidak perlu mengikuti arahan Lembang (Hilmi).

Lalu ada Fathuddin Jafar. Dia dicoret karena menerjemahkan surat peringatan disampaikan para tokoh senior PKS terhadap Hilmi ke dalam bahasa Arab. Terjemahan itu lantas dikirim kepada Syekh Abdul Qadir dari Madinah, salah satu donatur partai berlambang bulan sabit dan bintang itu.

Yusuf menuding Hilmi otoriter. Dia mengklaim tidak ada yang berani membantah omongan Hilmi dalam rapat majelis syuro kecuali dirinya. Dia juga menuduh Hilmi telah menjadikan PKS untuk memenuhi kepentingan pribadi dan komplotannya. "Dalam anggaran dasar. ketua Majelis syuro akan tunduk dan patuh atas keputusan Majelis Syuro walau bertentangan dengan kehendak pribadi."

Ambisi pribadi Hilmi termasuk ingin menjadi ketua majelis syuro seumur hidup. Yusuf telah mengingatkan Hilmi untuk segera mengakhiri masa jabatannya dalam sebuah pertemuan pada Maret 2004 di kediaman Salim Seggaf al-Jufir, Condet, Jakarta Timur. “Kang (Hilmi), akhirilah jabatan muraqib am (ketua majelis syuro) dengan khusnul khatimah optimal.” tutur Yusuf kala itu. Sesuai anggaran dasar partai, Hilmi yang sudah dua kali terpilih pada 1995 dan 2000 harus berakhir masa jabatannya pada April 2005.

Namun yang terjadi malah kebalikan. Anggota majelis syuro pada akhir Mei 2005 mengubah anggaran dasar. Masa jabatan ketua majelis syuro tadinya maksimal dua periode, diubah menjadi tanpa batas.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.