Berteman dengan Mantan Hingga Ketemuan Tanpa Bawa Perasaan

Syahdan Nurdin, voxpopid
·Bacaan 3 menit

VIVA – Move on dari mantan memang bukan perkara mudah, hingga tak ada istilahnya berteman dengan mantan. Banyak yang menganggap berteman dengan mantan itu aneh. Tapi nyatanya, ada teman yang masih berteman baik dengan mantannya. Bahkan, ia pergi berlibur dengan mantannya tersebut, plus pacar baru sang mantan.

Jadi, mereka liburan bertiga? Kok bisa?

Ya tentu saja bisa!

Beberapa waktu lalu, saya juga bertemu dengan mantan. Dia membawa pacar barunya, lalu dikenalin ke saya. Wah, saya rasanya mau salah tingkah dan drama-dramaan, bahkan sempat deg-degan parah. Tapi nyatanya, rasa itu hilang. Yang ada malah perasaan lega. Turut berbahagia, karena mantan akhirnya bisa bersama dengan orang yang dirasa lebih tepat.

Lantas, gimana sih bisa move on dan legowo?

Pertama, tentu rasanya sedih ketika harus putus dengan pasangan dan akhirnya menjadi mantan. Sering kali ingin menyangkal perasaan sedih itu, tapi kadang kok sulit. Padahal, rasa sedih adalah hal wajar. Maka, ambilah waktu untuk bersedih.

Selagi mengambil jeda, menangislah sepuasnya kalau memang itu perlu. Tak ada salahnya kok untuk menyendiri sementara waktu. Sambil makan sesukanya dan nonton seharian. Pokoknya apapun yang bisa kembali mendatangkan perasaan senang dan nyaman.

Kedua, menyadari bahwa orang-orang yang pernah bersama kita bukanlah milik kita. Dia pun punya hak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, bahkan jika keputusan itu tidak melibatkan kita. Sama halnya ketika ingin membangun relasi yang sehat, masing-masing tidak berhak untuk mengatur-atur.

Karena itu, pemahaman “dia bukanlah milik kita” sangat penting. Bahkan, semisal menikah pun, dia sepenuhnya tetap milik dirinya sendiri. Menikah adalah komitmen, bukan persetujuan untuk menjadikan pasangan sebagai properti.

Ketika masih menganggap pasangan sebagai properti atau kepemilikan, maka bakal ada saja kesulitan dalam menjalani kehidupan. Anggapan itu hanya akan membuat kita tidak nyaman saat bekerja atau beraktivitas. Merasa insecure hanya karena memikirkan pasangan apakah sedang selingkuh atau tidak.

Terus, gimana kalau ternyata putus, karena dia terbukti selingkuh? Ya buka pintu lebar-lebar untuk memberikan dia kesempatan. Kesempatan untuk pergi, maksudnya.

Jika memang ada yang melanggar komitmen, cukup relakan saja. Itu berarti menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang tepat. Tidak perlu bertahan mati-matian. Persilakan dia untuk pergi dan ucapkan semoga dia bahagia dengan kehidupan yang baru.

Berpisah karena putus hubungan cinta atau bahkan kematian adalah bagian dari hidup. Dan, tentu saja, perasaan sedih juga bagian dari siklus kehidupan itu sendiri.

Jika membutuhkan medium untuk menyalurkan kesedihan, maka lakukanlah. Meghan Markle dan Chrissy Teigen pernah mengungkapkan kesedihannya karena keguguran melalui tulisan dan diunggah ke media sosial. Ada pula seleb yang nangis-nangis di media sosial setelah hubungan asmaranya kandas, meski bersedih semestinya bukanlah aksi performatif yang harus terus ditampilkan ke publik.

Perasaan sedih malah bisa menjadi inspirasi untuk melanjutkan hidup dan berkarya, betul? Banyak karya-karya hebat dari para pemikir dan seniman yang mengalami proses dan fase pahitnya kehidupan.

Merasa sedih adalah perasaan nyata dan valid. Namun sayangnya, masih banyak yang mencoba untuk menyangkalnya. Takut dianggap gagal dan tidak layak untuk dicintai. Padahal, membangun relasi adalah proses yang berkelanjutan. Kalau di tengah jalan berhenti, ya cuma berhenti saja alias sesaat. Bukan berarti gagal, dong? Lanjut!

Kalaupun tidak jadi menikah juga bukan kegagalan, hanya bukan itu proses yang mesti dilalui agar menjadi lebih dewasa dalam menjalin hubungan.

Betul, perasaan sedih tak akan hilang seketika. Butuh waktu untuk dirasakan. Jadikan waktu itu untuk merefleksikan perjalanan sebuah hubungan. Anggap saja putus ibarat naik kelas. Kelas berikutnya dalam perjalanan hidup, dimana setiap orang bisa lebih antusias untuk menemukan hal-hal baru lainnya.

Kita tahu bahwa ada 5 fase kesedihan, yaitu menyangkal, marah, mengandai-andai, depresi, dan penerimaan. Bolehlah bersedih, tapi percayalah suatu saat bakal merasa bersyukur karena telah belajar dari sebuah proses.

Kapan ketemu mantan?