Bertemu PDIP, Masyarakat Adat Ingin Salam Rahayu Dapat Pengakuan

Agus Rahmat, Eduward Ambarita
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kelompok Masyarakat Adat dan Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, berharap 'Salam Rahayu' mendapat pengakuan, seperti salam-salam dari berbagai agama yang ada di Tanah Air. Itu salah satu poin permintaan mereka saat bertandang dan bertemu jajaran DPP PDI Perjuangan.

Sebab selama ini, Indonesia adalah bangsa dengan spiritualitas yang terwadahkan dalam Pancasila. Pertemuan berlangsung di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat pada Sabtu 24 April 2021.

Sekjen DPP Hasto Kristiyanto bersama Wasekjen Arif Wibowo, yang ikut menerima puluhan perwakilan kelompok dari seluruh Indonesia. Hasto memastikan, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu berkomitmen menjaga Indonesia sebagai rumah kebangsaan. Sebab Indonesia adalah negeri spiritual.

Baca juga: 141 Warga Negara India Diisolasi di Hotel di Jakarta Barat

Hasto bercerita, ketika memperoleh arahan dari Megawati bahwa ia harus menghadapi publik terkait isu apapun. Dihadapi harus diolah agar antara apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan selalu sama.

Hasto juga bercerita soal bagaimana di abad 7, ada tokoh Budha bernama Dharmakirti, yang hidup di masa Sriwijaya, lewat filsafat Dharma, membawa ajaran Yogachara yang terbukti menjadi jembatan di antara Tantrayana dan Mahayana.

"Itulah wujud basis Indonesia sebagai negeri spiritual. Itulah yang dikatakan oleh Bung Karno bahwa Pancasila digali dari Bumi Indonesia," kata Hasto, dalam keterangannya yang diterima VIVA.

"Dengan tradisi agraris yang penuh dengan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta, kita bisa memahami mengapa akulturasi kebudayaan selalu terjadi di agama Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan lain-lain. Hal ini karena nusantara yang begitu indah penuh dengan falsafah ketuhanan. Sedangkan sebagai negara kepulauan, nusantara menjadi tempat persilangan peradaban besar dunia,” lanjutnya memaparkan.

Maka dari itu, jelas Hasto, penting memadukan pikiran, hati dan rasa. Apalagi di Nusantara yang dikenal sangat kuat akan spiritualitasnya sejak dulu kala.

Hasto lalu menyebutkan, hasil penelitian yang menemukan soal peribahasa Nusantara yang selalu mengajarkan nilai alam rasa yang sama, walau disampaikan dengan bahasa daerah berbeda. Peribahasa Nusantara itu mengajarkan nilai toleransi, kepemimpinan, dan lain-lain.

"Betapa sebenarnya kita sebagai bangsa hebat dengan tradisi leluhur yang cerminkan spiritualitas kita sebagai bangsa, yang jadi kultur dan pandangan hidup," kata Hasto.

PDIP ingin meneguhkan komitmen untuk kembali menggali nilai otentik khas Nusantara itu, kata Hasto. Sebagai rumah kebangsaan untuk Indonesia Raya, partainya bersama pemerintahan Jokowi juga melindungi lewat pengakuan negara di kolom KTP untuk penghayat kepercayaan.

Menurutnya ini penting, karena Indonesia menghadapi adanya kekuatan yang tak memahami Indonesia sebagai negara dengan tradisi spiritualitas yang begitu berwarna.

"Kita disini disatukan tekad untuk membumikan Pancasila sebagai the way of life. Kami akan terus mengembangkan dialog agar penghayat kepercayaan juga diperlakukan sama tanpa diskriminasi. Namun seperti kata Bung Karno, semangat persatuan dan kesatuan harus dikembangkan," jelasnya.

Perwakilan dari kelompok Masyarakat Adat dan Penghayat Kepercayaan, Hadi Prajoko, mengatakan pihaknya mengajukan sejumlah hal sebagai hasil pertemuan puluhan kelompok di Jawa Barat, sejak 21 April lalu.

Pertama, mendorong pemahaman kebudayaan sebagai aspek seni pertunjukan, namun juga landasan budi pekerti dan tuntunan hidup.

Kedua, dinamika lapangan para penghayat, membutuhkan suatu tempat pendidikan budaya spiritual dan pamujaan sebagai upaya pembentukan budi pekerti luhur.

Ketiga, pentingnya payung hukum perlindungan atas terselenggaranya nilai luhur bangsa, khususnya terkait kehidupan masyarakat adat dan penghayat kepercayaan.

Keempat, perlu adanya penugasan lembaga negara yang mengurusi masyarakat adat yang tersebar di seluruh Indonesia. Institusi perlu dibentuk beradab dan bermartabat.

Kelima, Masyarakat Adat dan Kelompok Penghayat mendorong agar salam 'Rahayu' menjadi salam nasional bersama salam agama lainnya.

Sementara menanggapi itu, Wasekjen Arif Wibowo menyatakan pihaknya memahami bahwa harmoni sosial Indonesia yang hidup sejak jaman Nusantara harus dipertahankan. Maka dari itu, PDIP berkomitmen memperjuangkan aspirasi Masyarakat Adat dan Kelompok Penghayat itu.

"Aspirasi ini akan kami perjuangkan, sehingga bagaimana memelihara keberlangsungan, saya kira harus kita upayakan," kata Arif.