Bertemu PM Vietnam, Presiden Jokowi Fokus 4 Isu Ini

Daurina Lestari, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Joko Widodo menerima kunjungan Perdana Menteri (PM) Vietnam, Pham Minh Chinh, di Istana Bogor, Jumat 23 April 2021. Kedatangan Pham Minh Chinh ke Jakarta dalam rangka akan menghadiri pertemuan para pemimpin ASEAN yang akan dilakukan besok, 24 April 2021

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, mengatakan dalam kesempatan tersebut Presiden Jokowi menyampaikan ucapan selamat karena Pham Minh Chinh baru saja terpilih sebagai PM Vietnam. Presiden juga menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga hubungan bilateral antara Indonesia dan Vietnam.

"Presiden menegaskan Indonesia memiliki komitmen untuk terus menjalin hubungan bilateral yang saling menguntungkan bagi kedua rakyat. Bapak Presiden menyampaikan Vietnam adalah sahabat Indonesia dan mitra strategis RI di Asia Tenggara," kata Retno, Jumat 23 April 2021.

Menurut Retno, Presiden Jokowi juga menyampaikan harapan agar Vietnam bisa bekerja sama dalam menangani pandemi COVID-19. Retno juga menyebut dalam pertemuan bilateral tersebut, presiden fokus dalam 4 isu.

"Yang pertama pentingnya penguatan kerja sama kesehatan, kesehatan adalah hal utama dan kapan pandemi ini akan berakhir belum diketahui, oleh karenanya kerja sama di bidang kesehatan menjadi sangat penting. Presiden mendorong kedua negara untuk menyerukan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara, dan untuk jangka panjang menciptakan ketahanan kesehatan di Asia Tenggara," ujarnya.

Fokus yang kedua, kata Retno, Presiden tekankan pentingnya peningkatan kerja sama ekonomi. Presiden mengajak Vietnam untuk menurunkan hambatan baik di bidang dagang dan investasi.

"Ketiga, Presiden tekankan pentingnya percepatan perundingan perbatasan zona ekonomi eksklusif. Perundingan tersebut telah berlangsung 11 tahun, dan presiden menekankan pentingnya untuk mempercepat penyelesaian perundingan. Presiden menyarankan agar tim teknis kedua negara dapat segera berunding kembali dan menyelesaikan negosiasi," ujarnya

Menurut Retno, Presiden menekankan bahwa penyelesaian perundingan sangat penting karena memberikan kejelasan mengenai ZEE masing-masing, mengurangi kemungkinan adanya insiden kapal-kapal nelayan. Serta menekankan pentingnya bahwa klaim batas ZEE antarnegara harus diselesaikan berdasarkan hukum internasional yaitu UNCLOS 1982.

"Isu keempat yang disampaikan terkait dengan perkembangan situasi di Myanmar. Kedua pemimpin melakukan tukar pandangan situasi terakhir di Myanmar, dan menyampaikan keprihatinan atas berlangsungnya kekerasan dan jatuhnya korban jiwa. Vietnam sampaikan apresiasi kepemimpinan Indonesia yang menginisiasi ASEAN Leaders Meeting atau ALM ini," ujarnya.