Bertemu Taliban di Qatar, AS Sebut Pertemuan Itu Bukan Bentuk Pengakuan

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Doha - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Minggu (10/10) mengatakan bahwa pembicaraan akhir pekan ini dengan perwakilan Taliban di Doha, Qatar merupakan pertemuan pertama sejak penarikan AS dari Afghanistan pada akhir Agustus.

AS menggambarkan pertemuan itu sebagai bentuk profesional, sambil menekankan bahwa Taliban akan dinilai berdasarkan tindakannya, bukan hanya kata-katanya.

"Delegasi AS berfokus pada masalah keamanan dan terorisme dan perjalanan yang aman bagi warga AS, warga negara asing lainnya dan mitra Afghanistan kami, serta pada hak asasi manusia, kata Deplu AS, demikian dikutip dari laman CNN, Senin (11/10/2021).

"Ini termasuk partisipasi yang berarti pada perempuan dan anak perempuan dalam semua aspek masyarakat Afghanistan," tambahnya.

"Kedua belah pihak juga membahas pemberian bantuan kemanusiaan dari Amerika Serikat, langsung kepada rakyat Afghanistan."

Suhail Shaheen, duta besar Afghanistan yang ditunjuk untuk PBB, mengatakan diskusi "berjalan dengan baik" dalam sebuah pernyataan Minggu (10/10) malam.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada wartawan, "Kami melakukan diskusi rinci dengan delegasi Amerika di Doha."

"Dalam pertemuan ini juga dilakukan diskusi tentang bantuan kemanusiaan dan diskusi ini akan terus berlanjut," kata Mujahid.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Bukan Pengakuan Atau Legitimasi

Orang-orang berbaris di luar kantor pembuatan paspor pemerintah yang baru-baru ini dibuka kembali di Kabul, Afghanistan, Rabu (6/10/2021). Mereka mengantre setelah Taliban mengumumkan akan mengeluarkan paspor yang disetujui oleh pemerintahan sebelumnya. (AP Photo/Felipe Dana)
Orang-orang berbaris di luar kantor pembuatan paspor pemerintah yang baru-baru ini dibuka kembali di Kabul, Afghanistan, Rabu (6/10/2021). Mereka mengantre setelah Taliban mengumumkan akan mengeluarkan paspor yang disetujui oleh pemerintahan sebelumnya. (AP Photo/Felipe Dana)

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan kepada CNN sebelum pertemuan bahwa itu adalah "kelanjutan dari keterlibatan pragmatis dengan Taliban pada isu-isu kepentingan nasional vital AS."

Pejabat itu mengatakan kepada CNN bahwa pertemuan dengan perwakilan Taliban "bukan tentang memberikan pengakuan atau memberikan legitimasi."

"Kami tetap jelas bahwa legitimasi apa pun harus diperoleh melalui tindakan Taliban sendiri," kata mereka.

Sejak menguasai negara itu, Taliban telah dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan, termasuk pembunuhan tidak sah terhadap 13 minoritas Syiah Hazara.

Sistem perawatan kesehatan Afghanistan telah runtuh dan terjadi kekurangan pangan yang serius.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel