Membawa Maut, Ebola Ditetapkan Epidemi oleh Guinea

Ezra Sihite, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVAGuinea telah mengumumkan epidemi Ebola setelah tiga orang meninggal dunia dan empat lainnya jatuh sakit akibat penyakit yang ditimbulkan.

Tujuh orang tersebut jatuh sakit karena diare, muntah dan pendarahan setelah menghadiri pemakaman di Goueke dekat perbatasan Liberia. Kementerian Kesehatan Guinea mengonfirmasi para pasien yang terinfeksi telah diisolasi di pusat perawatan.

"Menghadapi situasi ini dan sesuai dengan peraturan kesehatan internasional, pemerintah Guinea mengumumkan epidemi Ebola," kata pernyataan Kemenkes Guinea dilansir Al Jazeera, Senin 15 Februari 2021.

Menteri Kesehatan Remy Lamah mengaku sangat prihatin dengan kematian tersebut yang pertama kali terjadi lagi sejak epidemi pada tahun 2013-2016 lalu. Pada kasus-kasus Ebola yang terjadi pertama kali di Guinea, ada 11.300 orang meninggal di seluruh wilayah Afrika Barat. Sebagian besar kasus terjadi di Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Tes kesehatan putaran kedua sedang dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis Ebola terbaru. Petugas kesehatan juga sedang bekerja, melacak dan mengisolasi kontak dari kasus-kasus tersebut.

Guinea menyatakan segera mengontak Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan badan kesehatan internasional lainnya untuk mendapatkan vaksin Ebola. Vaksin ini telah sangat membantu tingkat kelangsungan hidup masyarakat di sana, dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Regional WHO untuk Afrika, Dr Matshidiso Moeti mengatakan munculnya kasus baru Ebola di Guinea adalah sebuah perhatian besar.

"Tim kesehatan di Guinea sedang bergerak untuk melacak dengan cepat penyebaran virus ini untuk mencegah infeksi lebih lanjut. WHO mendukung pihak berwenang untuk menyiapkan pengujian, pelacakan kontak dan struktur pengobatan," ujar Moeti.

Penggunaan vaksinasi Ebola yang meluas kepada lebih dari 40.000 orang telah membentu mengekang penyebaran penyakit tersebut. Aliansi vaksin Gavi pada Januari 2021 lalu menegaskan ada persediaan darurat global vaksin sebanyak 500 ribu dosis, untuk menanggapi wabah di masa depan dengan cepat.