Besarnya Tagihan RS Bikin Rakyat India Andalkan Crowdfunding

·Bacaan 5 menit

Jumlah orang yang dirawat di rumah sakit langsung melonjak di tengah gelombang kedua penularan Covid di India. Karena banyak yang tidak ditanggung oleh asuransi, para warga pun mengandalkan media sosial agar bisa mendapat sumbangan dari masyarakat melalui urun dana atau crowdfunding, ungkap jurnalis Astha Rajvanshi.

Supraja Reddy Yeruva sudah tidak bisa bernapas secara normal selama berhari-hari setelah melahirkan anaknya yang kedua Juni lalu. Perempuan 27 tahun itu mulai menunjukkan gejala Covid-19 selama mengandung, tidak lama setelah berkunjung ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin.

Dia ketika itu langsung menderita infeksi paru-paru yang parah dan dilarikan ke Unit Perawatan Intensif (ICU) suatu rumah sakit swasta di Kota Hyderabad.

Dia masih dirawat di sana setelah sebulan.

Suaminya, Vijaya Yeruva, bersama putri mereka yang berusia 6 tahun dan putra yang baru lahir kini berharap cemas akan penyembuhannya.

Yeruva pun tengah berjuang membayar tagihan dari rumah sakit atas perawatan istrinya yang sudah sebesar 6 juta rupee (Rp1,1 miliar lebih) dan tagihannya terus bertambah.

Dia sudah menggunakan klaim asuransi kesehatan, selain memakai kartu kredit dan meminjam dari bank. Setelah tidak ada lagi alternatif, pria 35 tahun itu beralih ke Ketto, yaitu suatu platform penggalangan dana, dan mengirim permohonan sumbangan dari masyarakat lewat dunia maya.

Bekerja sebagai teknisi dengan pendapatan yang tidak besar, yaitu sekitar $1.076 (Rp15,6 juta) per tahun, Yeruva mengaku tidak pernah membayangkan sampai harus berharap sumbangan dari orang lain.

"Saya sudah kerja keras untuk membiayai keluarga saya dan tidak pernah minta bantuan," katanya. "Bahkan saat ini pun saya masih malu untuk bilang ke orang lain soal permintaan sumbangan ini"

Kisah Yeruva ini juga dialami ribuan keluarga di India yang menghadapi guncangan hebat akibat gelombang kedua infeksi covid, yaitu berupa tagihan biaya rumah sakit yang sangat besar.

Banyak yang sudah mengharapkan crowdfunding di dunia maya untuk membayar biaya rumah sakit - dan secara pesat muncul sebagai alternatif dari asuransi kesehatan dan bantuan pemerintah.

Para pakar mengungkapkan bahwa tiga dari laman crowdfunding terbesar - yaitu Ketto, Milaap, dan Give India - hingga kini telah menghimpun sumbangan sekitar $1,6 miliar (Rp23,2 triliun lebih) dari 2,7 juta donatur.

Ketto, yang digunakan Yeruva untuk menggalang dana, mengatakan bahwa jumlah sumbangan naik empat kali lipat selama dua gelombang penularan, menghimpun lebih dari $40 juta bagi 12.000 penghimpunan bantuan penderita covid.

"Dalam banyak kasus, crowdfunding sudah menjadi jaring pengaman alternatif untuk mengisi celah yang ada dalam sistem layanan kesehatan," kata Ravina Banze dan Irfan Bashir, yang menulis buku Crowdfunding: The Story of People.

Bahkan sebelum pandemi, kebutuhan terbesar untuk crowdfunding terwujud dalam kehidupan jutaan orang sakit di India.

Membiayai sendiri tagihan layanan kesehatan membuat 38 juta orang jatuh dalam kemiskinan pada 2011-2012, menurut studi tahun 2018 oleh British Medical Journal dan Public Health Foundation of India (PHFI).

Belum ada data soal berapa banyak orang yang mengalami kesulitan keuangan akibat tingginya tagihan biaya perawatan medis selama pandemi.

Namun studi awal oleh Duke Global Health Institute dan PHFI memperkirakan dua pertiga dari wiraswasta dan setengah dari pekerja upahan di India tidak mampu membayar tagihan perawatan medis.

India
Gelombang kedua penularan covid membuat banyak warga India antre membeli oksigen untuk merawat anggota keluarga mereka yang sakit.

Beban yang paling besar ditanggung kaum miskin di India, kelompok yang tahun lalu jumlahnya bertambah 230 juta orang, menurut tim peneliti di Azim Premji University. Lebih dari 90 persen rata-rata meminjam $201 (Rp2,9 juta lebih) untuk membayar utang.

Belanja publik atas pelayanan kesehatan di India hanya sekitar 1,2 persen dari Produk Domestik Bruto (GDP) - termasuk yang terendah di dunia, sekitar dua pertiga warga India tidak memiliki asuransi kesehatan.

"Menghadapi situasi kedaruratan medis yang tidak terduga merupakan bencana saat sebagian besar warga selalu hidup di bawah ancaman ketidakpastian keuangan," kata Bashir.

Pada 2018, Perdana Menteri Narendra Modi menjanjikan pertanggungan gratis bagi setengah miliar warga miskin India dengan meluncurkan "Modicare," skema asuransi kesehatan terbesar di dunia.

Namun, analisis dari Proxima Consulting menemukan hanya 13?ri kaum miskin yang terdaftar dalam skema itu bisa mendapat klaim asuransi saat dirawat di rumah sakit pemerintah dan swasta untuk perawatan Covid.

Skema itu tidak mencakup biaya rawat jalan, yang mendominasi biaya pengobatan.

Di Kota Nagpur, Chinmayi Hiwase berkeliling ke sejumlah rumah sakit selama tiga hari agar mendapat oksigen tabung dan perawatan bagi ayahnya yang berusia 57 tahun, Rajesh Hiwase.

Dia mengira perjuangannya melawan Covid sudah selesai.

Namun hasil pemindai MRI menunjukkan ayahnya mengidap gangguan auto-imun dan mucormycosis atau "jamur hitam." Perawatan tambahan, yang meliputi suntikan setiap hari berbiaya $94, sehingga total biayanya mencapai $33.633 (Rp488 juta lebih).

Ini biaya sangat besar yang harus ditanggung perempuan 25 tahun itu, yang merupakan anak tunggal dan baru lulus kuliah.

"Kami terkejut saat melihat tagihannya," ujar Chinmayi.

Ayahnya, yang bekerja di suatu kampus teknik swasta, hanya berpenghasilan tahunan $605 (Rp8,7 juta).

Tidak punya asuransi kesehatan, tagihan rumah sakit itu langsung mengurasi tabungan keluarga Hiwase, sehingga mereka terpaksa meminjam uang dari teman-teman dan, pada akhirnya, mulai menggalang dana secara daring.

Sejauh ini, keluarga itu sudah menggalang dana $11.956, hampir setengah dari jumlah yang mereka minta. "Saya tidak mengira bahwa [crowdfunding] ini sangat membantu," kata Chimayi Hiwase, sambil menghela napas lega .

"Crowdfunding pada intinya memberi jalan kepada mereka yang tidak mampu mendapat perawatan di rumah sakit swasta," kata Banze.

Para donatur seringkali adalah kerabat maupun teman dari pihak yang menggalang dana, namun ada juga dari lembaga swadaya masyarakat, selebritas maupun orang-orang lain, baik di India dan di luar negeri, yang merasa tergerak untuk membantu.

Namun sumbangan sering kali lebih banyak kepada kisah-kisah yang menyayat hati atau pasien yang punya jaringan sosial yang kuat.

Banze dan Bashir khawatir bahwa ini memicu suasana di mana masyarakat hanya tergerak membantu untuk kasus-kasus yang sangat parah.

"Tidak semua orang bisa membuat cerita yang baik, dan tidak semuanya pula yang punya kisah yang sangat ekstrem," kata mereka berdua.

Saat setengah dari populasi di negara itu masih belum punya sambungan internet, urun dana ini bisa menciptakan "asimetri informasi" dengan mencegah masyarakat lapisan terbawah memanfaatkan kekuatan penggalangan dana itu.

Meski ada sumbangan, masalah keuangan keluarga Hiwase masih jauh dari usai. Utang-utang masih harus dibayar dan perawatan atas ayahnya pun butuh waktu lama.

"Kami tidak mampu memberinya suntikan tanpa ada bantuan orang lain," ujar Hiwase. "Saya tidak tahu apakah mereka yang tidak mendapat bantuan seperti kami ini bisa melakukannya."

Di Hyderabad, Yeruva mulai berpikir untuk menjual aset-asetnya, bahkan rumahnya, untuk membayar perawatan bagi istrinya.

"Butuh waktu bertahun-tahun untuk segalanya kembali normal, namun saya ingin pastikan anak-anak masih akan didampingi ibunya."

Astha Rajvanshi adalah jurnalis lepas dan peneliti di Institute of Current World Affairs, berbasis di Delhi.

Anda mungkin juga tertarik dengan tayangan ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel