Betapa Bahagianya Aku karena Batal Menikah

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Kezia Prasetya

Aku menjalin hubungan bersama pacarku selama lima tahun. Tentu saja kami sudah melalui banyak waktu bersama-sama. Bahkan kami melewati waktu lima tahun tanpa adanya restu dari orangtua dan hidup di bawah tekanan ekonomi. Iya, pacarku adalah lelaki sebatang kara yang hidup sendirian di kota besar ini, sedangkan aku adalah anak kesayangan orang tua, yang akhirnya tidak dianggap oran tua karena aku lebih memilih pacarku. Kami berdua banting tulang mencari uang untuk membayar kuliah dan makan sehari-hari.

Walaupun kami tidak direstui orangtuaku, kami terus berjuang hingga akhirnya kami mendapatkan restu orangtua, di tahun ke-4 kami berpacaran. Kami sering bertemu dengan keluarga dan tidak backstreet lagi. Pacarku selalu ikut acara keluarga. Tapi tetap saja aku bekerja dan kuliah di usia 20 tahun walaupun aku terlahir di keluarga kaya.

Aku kira di tahun ke-5 kami berpacaran, hubungan kami semakin harmonis. Karena pada akhirnya kami merencanakan pernikahan kami. Beberapa vendor sudah kami hubungi dan kami sudah merapatkan acara pernikahan kami, yang sesuai dengan impian kami. Tetapi kenyataannya, di suatu pagi saat aku datang ke rumahnya untuk menemui dia yang baru saja pulang dari luar kota, dan aku melihat dia tidur bersama perempuan lain, dengan pakaian seminim mungkin. Betapa hancur hatiku saat itu. Karena aku sendiri tidak pernah berbuat seperti itu.

Memang benar tak ada kata maaf yang terucap dari dirinya, namun ia mengucapkan, "Maaf, kita lebih baik putus saja. Aku sudah bosan bersamamu selama ini, aku sedang menginginkan waktu untuk sendiri." Aku marah. Tetapi dia mengusirku dari rumahnya dan memilih untuk hidup bersama perempuan selain aku.

Bangkit Kembali

Kebahagiaanku./Copyright Kezia Prasetya
Kebahagiaanku./Copyright Kezia Prasetya

Saat itu aku mencoba untuk bunuh diri, aku mengonsumsi 4 botol alkohol dan akhirnya aku tetap pulang ke rumah orang tuaku. Aku meminta maaf kepada kedua orangtuaku, karena aku batal menikah dan mengecewakan mereka. Tetapi orang tuaku memaklumi dan menerimaku kembali ke dalam pelukan orang tua.

Setiap hari aku mencoba mengakhiri hidupku. Tanganku penuh dengan goresan luka, karena aku hanya berpikir, "Kalau orang lain menyakitiku, bukannya aku bisa menyakiti diriku sendiri?" Maka aku memutuskan untuk menyakiti diriku sendiri. Dan orang tuaku memasukkanku ke pusat rehabilitasi. Iya, aku depresi karena batal nikah, waktu itu.

Hari berganti hari, tepat diulang tahunku yang ke 25 tahun, aku keluar dari pusat rehabilitasi. Aku lebih mensyukuri diriku dan aku mulai mencintai diriku sendiri. Aku mulai menerima semua sakit hati yang aku terima.

Aku mendapat kabar terbaru, bahwa dia, orang yang pernah menyakitiku, barusan keluar dari penjara karena kasus korupsi uang kantor tempat ia bekerja, bahkan ia meniduri beberapa perempuan dan membuat 2 perempuan hamil di luar nikah. Kini aku sangat bersyukur dan bahagia karena batal menikah dengannya. Nggak kebayang kalau aku dulu harus menikah dengan predator seks.

#ElevateWomen