Bhayangkara FC dan 5 Klub Kuda Hitam yang Menghentak Liga Indonesia

·Bacaan 8 menit

Bola.com, Jakarta - Bhayangkara FC menjelma menjadi kekuatan baru sepak bola Indonesia. Momen itu terjadi setelah secara mengejutkan klub berjulukan The Guardians itu berhasil menjadi juara Liga 1 2017.

Perjalanan Bhayangkara FC di kancah sepak bola Indonesia dimulai pada 2010. Ketika itu, Bhayangkara FC hadir setelah menggunakan lisensi Persikubar Kutai Barat.

Dalam perjalanannya, klub ini sempat beberapa kali ganti nama mulai Persebaya 1927, Bonek FC Surabaya, Bhayangkara Surabaya United, hingga akhirnya menjadi Bhayangkara FC mulai 2016. Bhayangkara FC kemudian hijrah ke Stadion PTIK, Jakarta.

Bhayangkara FC merekrut Simon McMenemy sebagai pelatih untuk musim 2017. Sederet pemain berkualitas kemudian didatangkan mulai dari Paulo Sergio, Otavio Dutra, Lee Yoo-joon, dan Ilija Spasojevic.

Nama-nama asing tersebut dipadukan dengan Evan Dimas, Firman Utina, Zulfiando, Jajang Mulyana, hingga Ilham Udin Armaiyn. Bhayangkara FC akhirnya finis di puncak klasemen dengan raihan 68 poin.

Jumlah itu dikumpulkan Bhayangkara FC berkat 22 kemenangan, dua kali imbang, dan 10 kali kalah. Gelar ini menjadi yang pertama buat Bhayangkara FC.

Namun, Bhayangkara FC bukan satu-satunya klub kuda hitam yang sempat menggemparkan Liga Indonesia. Lantas, klub apa saja yang sempat membuat kejutan dan mendobrak persaingan?

Bandung Raya

Bandung Raya juara Liga Indonesia 1995-1996, Dejan Gluscevic. (Dok. Bola.com)
Bandung Raya juara Liga Indonesia 1995-1996, Dejan Gluscevic. (Dok. Bola.com)

Bandung terpecah ketika Liga Indonesia. Ibu kota Jawa Barat itu memiliki dua klub yang sama-sama punya kualitas, yakni Persib Bandung dan Bandung Raya.

Untuk nama terakhir, sebenarnya sudah eksis di Galatama. Bandung Raya terbentuk pada 19 Juni 1987 dengan markas di Stadion Siliwangi.

Pasang surut dialami Bandung Raya ketika tampil di Galatama. Pencapaian terbaiknya adalah peringkat ketujuh pada musim 1988-1989. Ketika memasuki era Liga Indonesia, Bandung Raya berbenah.

Maklum, pada edisi pertama gelar berhasil diraih Persib Bandung setelah mengalahkan Petrokimia Putra Gresik dengan skor 1-0. Pada Liga Indonesia 1995-1996, Bandung Raya kemudian mendatangkan kekuatan baru dalam timnya.

Pelatih asal Belanda, Henk Wullems dipercaya memimpin Bandung Raya. Sederet pemain berkualitas diboyong semisal Olinga Atangana (Kamerun) hingga Roger Milla (Kamerun). Nama-nama tersebut dipadukan dengan pemain lokal yakni Herry Kiswanto yang didapuk sebagai kapten, Nuralim, Surya Lesmana, Hendriawan, Budiman Yunus, Adjat Sudradjat, Alexander Sanunu, hingga Peri Sandria.

Bandung Raya yang menjadi kekuatan baru di Indonesia tampil menggebrak. Bandung Raya keluar sebagai pemuncak klasemen Wilayah Barat dengan 61 poin hasil 18 kemenangan, tujuh kali imbang, dan tiga kali kalah.

Bandung Raya kemudian berhasil mengalahkan Mitra Surabaya dengan skor 2-0 pada babak semifinal. Kemudian, Bandung Raya menantang PSM Makassar di partai puncak.

PSM ketika itu diperkuat Yeyen Tumena, Jacksen F. Tiago, Luciano Leandro, hingga Ali Baba yang menjadi kapten. Secara mengejutkan, Bandung Raya berhasil meraih kemenangan 2-0 berkat gol cepat Peri Sandria (3') dan Rafni Kotari (11').

Pada 1996-1997, Bandung Raya hampir mampu mempertahankan gelar Liga Indonesia. Sayangnya, pada laga final, skuad yang diasuh Albert Fafie itu menyerah 1-3 dari Persebaya Surabaya.

Ini menjadi akhir cerita manis Bandung Raya yang bubar karena masalah finansial. Pada 2011, Bandung Raya sempat bangkit dengan memakai nama Pelita Bandung Raya.

Setelah itu, Pelita Bandung Raya sempat mati suri. Saat ini, Pelita Bandung Raya berubah menjadi Madura United yang hijrah ke Pulau Garam.

Petrokimia Putra Gresik

Pendukung Persegres Gresik United (Liputan6.com / Dimas Angga P)
Pendukung Persegres Gresik United (Liputan6.com / Dimas Angga P)

Petrokimia Putra Gresik tak bisa dipisahkan dari sejarah Liga Indonesia. Klub yang dibentuk pada 1988 itu pernah menorehkan catatan apik.

Pada era Liga Indonesia yakni penggabungan Galatama dan Perserikatan, Petrokimia Putra Gresik langsung tampil menggebrak. Klub berjulukan Kebo Giras itu tampil menggila dengan materi pemain hebat semisal Widodo Cahyono Putro, Eri Irianto hingga Jacksen F. Tiago.

Pada babak grup tahun 1995, Petrokimia Putra Gresik berhasil menjadi pemuncak klasemen dengan raihan 60 poin hasil 17 kemenangan, sembilan kali imbang, dan enam kali kalah. Pasukan Andi Muhammad Teguh juga tampil mulus pada laga babak kedua dan berhasil lolos ke semifinal.

Petrokimia Putra Gresik kemudian mendepak Pupuk Kaltim dengan skor 1-0 pada laga semifinal sehingga membuat mereka menantang Persib Bandung di partai puncak. Sayangnya, pada laga yang digelar di Stadion Utama Senayan (SUGBK), 30 Juli 1995 itu, Petrokimia takluk 0-1 melalui gol Sutiono Lamso. Gelar yang diidam-idamkan melayang.

Kegagalan itu menjadi pelajaran berharga buat Petrokimia Putra Gresik. Klub asal Jawa Timur baru mampu melunasinya pada musim 2002.

Petrokimia Putra Gresik berhasil meraih gelar setelah mengalahkan Persita Tangerang pada laga final Divisi Utama 2002. Keberhasilan PS Petrokimia Putra Gresik tak bisa dipisahkan dari peran kiper Mukti Ali Raja, Khusaeri, Aris Budi Prasetyo, Agus Indra Kurniawan hingga Widodo C Putro.

Gelar tersebut terasa spesial buat Widodo. Musim sebelumnya, Widodo juga berhasil membawa Persija Jakarta meraih gelar Liga Indonesia 2001.

"Menjadi juara sama saja. Bedanya, di Persija kami tidak diarak keliling Jakarta. Akan tetapi, kalau di Gresik kami diarak keliling Gresik dan diberikan bonus yang jumlahnya berbeda," ucap Widodo sembari tertawa.

Namun, semusim berselang, Petrokimia Putra Gresik tak mampu mempertahankan gelar dan turun kasta ke Divisi 1. Pada 2005, Petrokimia Putra Gresik diketahui resmi membubarkan diri meski pada akhirnya bergabung dengan Persegres Gresik dan membentuk Gresik United yang saat ini tampil di Liga 3.

Persik Kediri

Shopee Liga 1: Persik Kediri. (Bola.com/Dody Iryawan)
Shopee Liga 1: Persik Kediri. (Bola.com/Dody Iryawan)

Persik Kediri bukan anak bawang di kancah sepak bola Indonesia. Tim berjulukan Macan Putih ini pernah dua kali merebut trofi Liga Indonesia era 2000-an. Gelar pertama diraih pada 2003 sebelum kembali menorehkan tinta emas tiga musim berselang.

Bukan Persik namanya jika tak mengalami pasang surut prestasi. Pada 2003, tim berjulukan Macan Putih ini berhasil promosi ke Divisi Utama yang kala itu masih menjadi kompetisi kasta teratas Liga Indonesia setelah menduduki podium juara Divisi Satu setahun sebelumnya.

Bermodalkan para pemain lokal kurang tenar, trofi Liga Indonesia 2003 malah melipir ke Kediri. Pelatih Jaya Hartono berhasil mengombinasikan sejumlah talenta pribumi dengan legiun impor berkualitas.

Aris Budi Sulistyo, Wawan Widiantoro, Harianto, dan Musikan bahu-membahu bersama Ebi Sukore serta Frank Bob Manuel untuk mengungguli PSM Makassar di tabel klasemen akhir yang saat itu diperkuat oleh dua bomber ganas, Oscar Aravena dan Cristian Gonzales.

Setelah sempat terseok-seok pada dua musim kemudian, gelar Liga Indonesia kembali mampir ke Kota Tahu pada 2006. Trofi tersebut dirasa lebih wah lantaran Macan Putih berkekuatan skuad yang mewah.

Kala itu, Persik dinakhodai oleh pelatih flamboyan, Daniel Roekito. Mirip dengan era Jaya Hartono, Persik masih memadukan wajah lokal yang kini lebih gres plus pemain asing kelas wahid.

Kehadiran Cristian Gonzales dan Danilo Fernando makin melengkapi barisan pemain lokal yang diisi oleh Aris Indarto, Hariono, dan Budi Sudarsono.

Di babak final, yang ketika itu Liga Indonesia mengadopsi dua wilayah, Persik mengalahkan PSIS Semarang lewat gol semata wayang Cristian Gonzales pada menit ke-110 babak perpanjangan waktu.

Lambat laun, prestasi Persik menurun. Padahal, Macan Putih sempat bermanuver dengan menjadi Los Galacticos-nya Indonesia. Pada 2008, tim kebanggaan Persikmania ini membajak Markus Horison, Mahyadi Panggabean, Legimin Raharjo, dan Saktiawan Sinaga dari PSMS Medan. Keempatnya melengkapi sejumlah wajah lama yang masih dipertahankan seperti Danilo Fernando, Ronald Fagundez, dan Cristian Gonzales.

Gagal menjadi juara Liga Indonesia pada 2008-09 lantaran hanya finis di posisi keempat, Persik perlahan ditinggalkan pemain bintangnya. Faktor larangan klub profesional menyusu ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) memicu Macan Putih kering sokongan dana. Alhasil, Persik turun kasta ke Divisi Utama ketika sistem Liga Super Indonesia memasuki tahun kedua pada 2009-10.

Persikota Tangerang

Suimin Diharja (kanan) bersama dengan salah satu pendiri Persikota Tangerang, Abas Sunarya. (Dok. Persikota)
Suimin Diharja (kanan) bersama dengan salah satu pendiri Persikota Tangerang, Abas Sunarya. (Dok. Persikota)

Julukannya saja sudah Bayi Ajaib. Perjalanan Persikota Tangerang di Liga Indonesia pasti penuh dengan kejutan.

Kiprah Persikota diawali dengan menjuarai Divisi II Liga Indonesia pada 1995/1996 dan Divisi 1 Liga Indonesia pada 1996/1997.

Keberhasilan menjadi kampiun Divisi 1 membuat Persikota promosi ke Divisi Utama 1997/1998. Gebrakan Bayi Ajaib terjadi pada 1999/2000. Persikota berhasil lolos ke semifinal. Namun, perjuangan Bayi Ajaib kandas di tangan PKT Bontang dengan skor 3-4.

Pada 2001, Persikota dilatih Rahmad Darmawan. Di sinilah nama Bayi Ajaib mulai dikenal khalayak luas setelah dipoles oleh pelatih legendaris itu.

Bersama Rahmad Darmawan, performa Persikota tergolong konsisten. Bayi Ajaib menduduki peringkat kelima dan keenam pada 2001 dan 2002.

Pada musim 2003 dan 2004, Persikota masih stabil mengakhiri kompetisi di posisi keenam dan kelima. Bayi Ajaib juga berhasil menelurkan sejumlah pemain yang disegani semodel Aliyudin, Tema Mursadat, dan Firmansyah.

Performa Persikota mulai merosot tatkala Rahmad Darmawan hengkang ke Persipura Jayapura pada 2005. Bayi Ajaib masih sanggup bertahan di Divisi Utama hingga 2007.

Namun, pada 2007, Persipura kalah bersaing untuk lolos ke Indonesia Super League (ISL). Bayi Ajaib hanya menempati peringkat ke-15 Wilayah Barat.

Kegagalan itu menandai berakhirnya pula magis Bayi Ajaib. Saat ini, Persikota masih mendekam di Liga 3.

Persiwa Wamena

Persiwa Wamena di Piala Indonesia 2019. (Bola.com/Gatot Susetyo)
Persiwa Wamena di Piala Indonesia 2019. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Kejutan dimulai ketika Persiwa Wamena promosi ke Divisi Utama 2006. Adalah John Banua, yang kini menjabat Bupati Jayawijaya, sebagai bidan yang melahirkan sekaligus melambungkan Persiwa saat itu. Perjuangan Tim Pegunungan Tengah ini benar-benar dimulai dari kasta terbawah.

Pada tahun pertamanya di Divisi Utama, Persiwa berhasil bercokol di peringkat kelima musim 2006. Tahun berikutnya, tim berjulukan The Highlander ini mampu menembus babak delapan besar.

Pada 2008, Persiwa berhasil mengakhiri musim tersebut dengan posisi runner-up di bawah Persipura. Musim 2011-2012, Persiwa berada di ranking ketiga.

John Banua, yang mengandalkan sumber pendanaan klub dari bisnis konstruksi ini, mulai ngos-ngosan seorang diri membiayai Persiwa. Akhirnya pada 2013, Persiwa terdegradasi dari kasta teratas Liga Indonesia.

Musim berikutnya, 2014, Persiwa sempat promosi lagi. Tetapi saat itu, PT Liga Indonesia mencoret Persiwa bersama Persik Kediri karena dianggap tidak memenuhi syarat dari sisi finansial.

Ketika sedang jaya-jayanya, Persiwa berhasil mengorbitkan sejumlah pemain yang populer di eranya. Sebut saja Ferdinand Sinaga dan Pieter Rumaropen di sektor lokal. Ada pula Erick Weeks, Boakay Edi Foaday, dan O.K. John di pos pemain asing.

Video