BI: Akselerasi Digitalisasi Pembayaran Kunci Pemulihan Ekonomi Selain Vaksinasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Akselerasi digitalisasi pembayaran akan merupakan kunci untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional selain vaksinasi Covid-19. Hal tersebut diungkapkan Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta.

Menurut dia, selama ini program vaksinasi merupakan salah satu kunci pemulihan ekonomi.

"Nah kunci lainnya lagi itu adalah digitalisasi, utamanya terkait digitalisasi pembayaran," ujarnya dalam acara Taklimat Media BI-Fast, Rabu (3/11).

Filianingsih merangkan, melalui percepatan digitalisasi pembayaran dapat menjadi solusi untuk menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19. Menyusul, adanya kepraktisan melalui penggunaan teknologi untuk memfasilitasi kegiatan ekonomi masyarakat.

"Mungkin teman-teman sudah 2 tahun tidak pergi ke kantor bank, tetapi mungkin 1 menit yang melakukan transaksi pembayaran melalui gadget. Meskipun tidak bisa tatap muka, tapi transaksi ekonomi tetap bisa jalan, kita tetap bisa berlanja, tetap bisa transfer, tetap bisa lakukan pembayaran itu melalui digitalisasi pembayaran," bebernya.

Maka dari itu, Bank Indonesia bersama stakeholders terus berupaya mengakselerasi digitalisasi pembayaran di berbagai wilayah tanah air. Dengan begitu, diharapkan bisa membantu pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia.

"Nah kita harapkan, (digitalisasi pembayaran) ini mendorong transaksi ekonomi keuangan. Karena ujung-ujungnya juga berkontribusi untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional," pungkasnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Transfer Antarbank Cuma Rp 2.500, BI-Fast Siap Tampung 30 Juta Transaksi Sehari

Ilustrasi Foto Mesin  ATM (Anjungan Tunai Mandiri) (iStockphoto)
Ilustrasi Foto Mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) (iStockphoto)

Bank Indonesia (BI) akan segera meluncurkan sistem pembayaran baru BI-Fast Payment pada Desember 2021 untuk menggantikan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). Implementasi tahap awal difokuskan untuk layanan transfer kredit individual.

Melalui sistem ini, BI akan melakukan pemerataan biaya transfer bank senilai hanya Rp 2.500 untuk sekali transaksi

Kepala Departemen Pengelolaan Sistem Informasi Bank Indonesia Endang Trianti mengatakan, pihak bank sentral masih terus melakukan pengkajian terkait volume transaksi yang bisa ditampung BI-Fast. Namun, ia memperkirakan layanan ini bisa mengakomodir hingga 30 juta transaksi dalam satu hari

"Tapi di tahap awal ini kita mengantisipasi sampai 30 juta transaksi per hari, dengan kemampuan pemrosesan 2.000 transaksi per second," terang Endang dalam sesi teleconference, Rabu (3/11/2021).

Endang menyampaikan, Bank Indonesia akan terus melakukan review terhadap penggunaan BI-Fast, dengan turut melihat perkembangan volume transaksi pada layanan tersebut.

"Oleh karena itu, solusi-solusi yang kita gunakan yaitu solusi yang cukup fleksibel pada saat nanti kita butuh untuk penambahan kapasitas ke depan," ujar dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel