BI Akui Vaksinasi Global Kunci Percepat Pemulihan Ekonomi

Dusep Malik, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Riza Tyas menegaskan, salah satu kunci utama dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, adalah program vaksinasi COVID-19 yang saat ini masih coba digenjot oleh pemerintah.

Dia beralasan, hal itu sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang sudah mulai mengalami pertumbuhan ekonomi, di mana proses pemulihan ekonominya lebih cepat karena turut disokong upaya akselerasi pada pelaksanaan vaksinasi COVID-19.

"Terutama (seperti yang terjadi) di negara-negara maju," kata Riza dalam telekonferensi, Kamis 25 Maret 2021.

Riza mencontohkan Amerika Serikat, yang langsung melakukan berbagai akselerasi pada program vaksinasi COVID-19 begitu Joe Biden resmi menjabat sebagai presiden. Hal itu dilakukan tak lain adalah demi menggerakkan kembali roda perekonomian AS.

Meskipun, sebelumnya penanganan COVID-19 di AS terbilang buruk dan mengalami kemunduran pada era Presiden Trump. Hingga kemudian, Joe Biden berhasil memenangkan pemilu AS dan melakukan akselerasi pada program vaksinasi COVID-19 dengan sangat cepat.

Selain itu, beberapa faktor yang membuat negara-negara seperti Amerika, Tiongkok, dan India dapat mengakselerasi program vaksinasinya, antara lain yakni karena adanya kemampuan suplai vaksin yang besar.

Kemudian, lanjut Riza, adanya kemampuan mereka dalam menggelar program pelaksanaan vaksinasi COVID-19, yang didukung oleh ketersediaan alat kesehatan serta fasilitas pendukung lainnya.

"Dan hal tersebut membuat Amerika menjadi negara nomor empat dalam hal akselerasi pada pelaksanaan program vaksinasi COVID-19," ujar Riza.

Melalui langkah akselerasi vaksinasi COVID-19 semacam itu, maka proses pemulihan ekonomi di AS, Tiongkok, dan India, akhirnya dinilai mampu mendorong perekonomian global untuk mulai bergerak membaik.

Meski demikian, Riza mengaku masih melihat bahwa proses pertumbuhan ekonomi secara global belum berjalan dengan seimbang. Di mana, perekonomian negara-negara berkembang atau emerging market, termasuk Indonesia, masih belum bisa dikatakan pulih dari dampak pandemi COVID-19 tersebut.

"Jadi faktor utama yang menyebabkan perbedaan pertumbuhan ekonomi antara negara maju dan beberapa negara emerging market, adalah pelaksanaan vaksinasi," ujarnya.