BI: Anggota OKI harus gesit integrasikan ekonomi islam dan digital

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng menyatakan negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) harus gesit dalam mengintegrasikan ekonomi serta keuangan Islam dengan pendekatan digitalisasi.

Sugeng menuturkan hal itu perlu dilakukan mengingat aspek digitalisasi menjadi penting sejak pandemi COVID-19 mengubah cara hidup masyarakat dalam berkomunikasi maupun beraktivitas.

“Dalam kondisi ini kami ingin kegiatan ekonomi tetap berjalan jadi digitalisasi menjadi penting. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal negara-negara OKI perlu gesit mengintegrasikannya,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis.

Terlebih lagi, Sugeng mengatakan ekonomi dan keuangan Islam memiliki potensi yang sangat besar jika diintegrasikan dengan digitalisasi.

Menurutnya, ekonomi dan keuangan Islam yang dulunya sangat terbatas pada instrumen keuangan syariah yang ditawarkan melalui bank syariah sekarang telah dikembangkan menjadi definisi lebih luas.

Ia menjelaskan saat ini ruang lingkup ekonomi dan keuangan Islam mencakup rantai nilai halal, media dan rekreasi Islami, pariwisata Islami, apotek dan kosmetik halal termasuk keuangan sosial dan komersial Islami.

Kemudian, berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2019-2020 disebutkan belanja konsumsi secara global di berbagai sektor ekonomi Islam diperkirakan mencapai lebih dari 3 triliun dolar AS pada 2024 atau meningkat 45 persen dari 2,2 triliun dolar AS pada 2018.

Oleh sebab itu, Sugeng menuturkan pengeluaran yang sangat besar di berbagai sektor ekonomi dan keuangan Islam akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru jika diintegrasikan dengan digitalisasi.

“Dengan potensi yang begitu besar maka banyak negara yang mengalihkan fokusnya untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan Islam meski bukan negara mayoritas muslim,” ujarnya.

Ia menyebutkan Thailand dan Korea Selatan meskipun bukan negara dengan masyarakat mayoritas muslim namun telah memperhatikan pengembangan pariwisata ramah muslim.

“Thailand telah menyatakan negara mereka sebagai dapur halal dunia dan Korea Selatan menyatakan diri sebagai destinasi ramah turis muslim dunia,” katanya.

Tak hanya Thailand dan Korea Selatan, China juga merupakan negara produsen busana muslim terbesar meski mayoritas masyarakatnya nonmuslim.

“Mereka menjualnya melalui platform digital. Untuk itu negara OKI tidak boleh ketinggalan,” ujarnya.

Baca juga: Menkeu pastikan dana PEN dukung aktivitas pesantren saat pandemi
Baca juga: Menkeu: Ekonomi Islam berperan dalam pemulihan imbas COVID-19
Baca juga: Wapres sampaikan pidato di Simposium Ekonomi Islam Al Baraka