BI Bali dorong TPID tetap laksanakan program 4K agar inflasi stabil

·Bacaan 2 menit

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali mendorong Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di daerah itu tetap melaksanakan program 4K agar inflasi yang terjadi tetap rendah dan stabil.

"Program 4K ini meliputi ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif," kata Kepala KPwBI Provinsi Bali Trisno Nugroho di Denpasar, Selasa.

Untuk mendorong pelaksanaan program 4K, ujar Trisno, terutama dapat dilakukan dengan kerja sama antar-daerah, digital farming, dan pemasaran produk lewat e-commerce.

Pihaknya memprediksi inflasi Bali sampai dengan akhir tahun cenderung rendah dan stabil. Meskipun demikian, pada Oktober 2021, Provinsi Bali
mencatatkan deflasi sebesar minus 0,19 persen (mtm) pada Oktober 2021, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 0,10 persen (mtm).

Secara spasial, deflasi terjadi di Kota Denpasar sebesar minus 0,23 persen (mtm), sementara Kota Singaraja mengalami inflasi sebesar 0,08 persen (mtm).

Penurunan tekanan harga terjadi pada kelompok core inflation dan volatile food, sedangkan kelompok administered price tercatat meningkat.

Trisno menambahkan, secara tahunan, Bali mengalami inflasi sebesar 1,45 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 1,40 persen(yoy), namun lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 1,66 persen (yoy).

Kelompok barang core inflation mencatat deflasi sebesar minus 0,29 persen mtm (0,79 persen yoy), terutama disebabkan oleh turunnya harga canang sari. Penurunan harga canang sari seiring dengan normalisasi harga setelah mengalami peningkatan harga pada bulan sebelumnya.

Selain itu, harga emas perhiasan juga tercatat mengalami penurunan harga seiring dengan tren penurunan harga emas dunia.

Kelompok barang administered price mencatat inflasi sebesar 0,49 persen mtm (0,88 persen yoy). Peningkatan tekanan harga terutama terjadi pada harga angkutan udara seiring dengan meningkatnya aktivitas penerbangan ke Bali dampak dari penurunan level PPKM di Oktober 2021.

Kelompok barang volatile food juga mengalami deflasi sebesar minus 0,49 persen mtm (5,20 persen yoy).

"Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas tomat, telur ayam ras dan bawang merah seiring dengan terjaganya pasokan yang didukung oleh panen di berbagai daerah sentra produksi," kata Trisno.

Baca juga: BI: Target merchant QRIS di Bali 2021 bakal tercapai November ini

Baca juga: BI Bali motivasi UMKM ekspor kopi ke Eropa dan Australia

Baca juga: BI Bali: Transformasi digital kiat bertahan UMKM di tengah pandemi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel