BI Berharap Negara Islam Anggota OKI Saling Bantu Tangani Pandemi Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bank Dunia melaporkan bahwa negara Islam yang tergabung dengan Organization of Islamic Cooperation (OKI) sebagian besar mengalami krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. Sebagian besar dari 59 negara anggota OKI berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.

"Sebanyak 59 persen Negara Islam berada negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah," kata Deputi Bank Indonesia (BI) Doni P Joewono dalam webinar bertajuk Cross Border Waqf on New Normal Era : Potentials, Benefit and Challenges, Jakarta, Jumat (30/10/2020).

Doni merincikan, sebanyak 30 persen negara anggota OKI berpenghasilan rendah dan 29 persen negara berpenghasilan menengah. Lalu sebanyak 29 persen negara berpenghasilan menengah ke bawah dan 13 persen negara berpenghasilan tinggi.

Sehingga kata Doni ada 41 persen negara dikategorikan berpenghasilan tinggi. "Empat puluh satu persen adalah negara berpenghasilan tinggi," kata dia.

Dia melanjutkan wabah Covid-19 telah menyebabkan kemunduran signifikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Baik itu bagi perkembangan ekonomi internasional dan pasar keuangan global.

Tak terkecuali bagi ekonomi dan keuangan islam sebagai bagian dari ekonomi internasional dan ekosistem pasar keuangan global. Maka Doni berharap semua negara islam untuk saling bekerja sama agar bisa bangkit dari krisis global akibat virus corona.

"Berkenaan dengan kinerja ekonomi yang beragam antar negara Islam, diperbolehkan dan dianjurkan agar umat Islam saling membantu lintas negara. Salah satu amalan amal bagi umat Islam adalah Wakaf," kata Doni mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Negara Islam Ogah Investasi di Indonesia, Ini Sebabnya

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Duta Besar RI untuk Abu Dhabi, Husin Bagis mengatakan ada 57 negara yang mayoritasnya islam di dunia. Namun hanya ada beberapa negara islam yang kaya dan mau investasi di negara lain.

Salah satu negara islam yang kaya yakni Arab Saudi. Negara Timur Tengah ini bisa memproduksi minyak 12 juta barel dan Abu Dhabi 14 juta barel. Negara ini memiliki banyak cadangan energi, tetapi jumlah penduduknya sedikit.

"Banyak cadangan energi tapi jumlah penduduk sedikit, uangnya jadi banyak. Nah uangnya ini kemana? ya investasi," kata Husin dalam Webinar Nasional Investasi Negara-Negara Islam di Indonesia, Jakarta, pada Jumat 2 Oktober 2020.

Hanya saja, negara-negara kaya itu kata Husin hanya akan berinvestasi di negara-negara yang mudah birokrasinya dan menarik. Padahal dana Sovereign Wealth Fund dari Abu Dhabi sangat besar.

Mereka enggan berinvestasi di Indonesia karena pemerintah tidak memiliki proyek kerja sama yang tuntas.

"Mereka kurang tertarik untuk menanamkan modalnya ke Indonesia karena kita gak punya project yang bisa nawarin kesepakatan yang clean and clear," ungkap Husin.

Hal inilah yang menyebabkan investasi proyek di Indonesia akhirnya mangkrak. Sebab terganjal oleh proses administrasi.

Saksikan video pilihan berikut ini: