BI catat kredit konsumsi masih dominan di Papua Barat

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Papua Barat Rut W. Eka Trisilowati mengatakan dilihat dari jenis penggunaan, kredit konsumsi masih menjadi produk yang paling banyak disalurkan kepada masyarakat di wilayah itu dengan pangsa 58,58 persen pada triwulan II-2022.

BI mengingatkan untuk waspada karena secara teori kredit konsumsi tidak memberikan imbal hasil dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Kredit konsumsi masih tertinggi, diikuti kredit modal kerja 29,05 persen dan untuk tujuan investasi hanya 12,37 persen," katanya di Manokwari, Senin.

BI mencatat penyaluran kredit pada triwulan II-2022 terjadi pertumbuhan sebesar 5,76 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut berasal dari total kredit yang disalurkan pada triwulan II-2021 sebesar Rp14,25 triliun, meningkat menjadi Rp15,07 triliun pada triwulan-II 2022.

"Jika dilihat dari sektor ekonomi, pangsa pemberian kredit pada triwulan II-2022 masih relatif sama dengan periode sebelumnya. Kredit terbesar masih didominasi oleh sektor rumah tangga & bukan lapangan usaha lainnya dengan pangsa sebesar 58,58 persen," kata dia.

Sementara itu, pangsa terbesar kedua berada pada sektor perdagangan yang mencapai 19,85 persen, diikuti sektor pertanian yang meningkat menjadi 5,54 persen.

"Masa pemulihan ekonomi serta relaksasi mobilitas masyarakat dan pergerakan ekonomi, penyaluran kredit diperkirakan dapat meningkat dan mendorong aktivitas ekonomi dan bisnis di Papua Barat ke depan," katanya.

Ia menjelaskan, secara kualitas kredit perbankan Papua Barat pada triwulan II-2022 mengalami penurunan terlihat dari peningkatan rasio NPL (Non Performing Loans) yang tercatat meningkat menjadi 3,91 persen (gross), dengan sektor konstruksi yang memiliki rasio NPL tertinggi (gross) yaitu 23,67 persen.

Baca juga: Sebanyak 3.000 warga di Papua Barat pengguna baru QRIS

Baca juga: Bank Indonesia dorong peningkatan kapasitas UMKM Papua Barat

Baca juga: BI bangun rumah produksi abon ikan Miareto Sorong