BI Kalbar proyeksikan kebutuhan uang saat puasa-lebaran Rp2,7 triliun

Ahmad Buchori
·Bacaan 2 menit

Bank Indonesia (BI) Kalimantan Barat memproyeksikan kebutuhan uang saat Ramadhan–Idul Fitri 2021 di wilayah tersebut sebesar Rp2,7 triliun.

“Kebutuhan uang tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya diproyeksikan meningkat 80 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang hanya Rp1,5 triliun,” kata Kepala KPw BI Kalbar, Agus Chusaini di Pontianak, Selasa.

Ia menjelaskan bahwa perhitungan proyeksi kebutuhan uang di Kalbar itu berdasarkan tren data tahun sebelumnya, asumsi makroekonomi dan kebijakan pemerintah.

“Sedangkan untuk Kas BI Kalbar hingga posisi tanggal 23 April 2021 sebesar Rp4,8 triliun, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan uang selama Ramadhan dan Lebaran 2021,” katanya.

Terkait layanan penukaran uang, menurut dia, sudah dimulai sejak 12 April hingga 11 Mei 2021 di perbankan. Ia mempersilakan kepada masyarakat untuk menukarkan ke bank terdekat.

“Terdapat 141 titik penukaran di wilayah Kalbar yang tersebar di 12 kabupaten dan 2 kota,” katanya.

Sementara terkait uang pecahan Rp75.000, menurut dia, bisa menjadi bagian spesial saat Lebaran. Dengan uang pecahan baru akan menjadi pemberian berharga bagi keluarga atau kerabat.

“Sangat spesial lebaran kalau UPK 75 untuk angpau. Jadi kami persilakan untuk menukarkannya. Jika tidak ada pandemi COVID-19 bisa ramai menukarkan uang UPK 75 untuk angpau,” katanya.

Sebelumnya, penukaran UPK 75 yang diluncurkan 17 Agustus 2020 yang merupakan alat pembayaran yang sah (legal tender) di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 1 KTP untuk satu lembar. Namun saat sudah bisa 100 lembar.

"Masyarakat dapat melakukan penukaran UPK 75 menggunakan 1 KTP untuk mendapatkan maksimal 100 lembar. Perubahan mekanisme penukaran UPK 75 dapat memberi kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk mendapatkannya sekaligus sebagai bentuk upaya peningkatan layanan publik BI,” katanya.

Baca juga: BI Kalbar terus dukung digitalisasi keuangan dengan perluasan QRIS

Baca juga: Terdampak COVID, BI sebut konsumsi masyarakat Kalbar turun 50 persen

Baca juga: BI dorong upaya pengendalian inflasi di Kalbar maksimal