BI: Kebijakan akomodatif, ruang penurunan suku bunga terbuka

Kelik Dewanto

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan kebijakan bank sentral akan tetap akomodatif untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi dan ruang untuk menurunkan suku bunga.

Dalam jumpa pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis, ia mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan untuk memanfaatkan opsi ruang penurunan suku bunga acuan tersebut atau memberikan stimulus terhadap perekonomian dengan opsi kembali menyuntikkan likuiditas dan operasi moneter.

Baca juga: BI pertahankan suku bunga acuan lima persen

Menurut Perry, faktor yang paling menentukan untuk opsi dalam memberikan stimulus terhadap perekonomian adalah efektivitas dari opsi-opsi tersebut.

"Ruang penurunan suku bunga ada, tapi apakah akan dipakai? Tunggu dulu, kita pertimbangkan faktor global dan domestik," katanya.

Pada Januari 2020, BI memilih untuk menahan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate menjadi lima persen.

Begitu pula dengan tingkat suku bunga penyimpanan dana di BI atau deposit facility dan penyediaan dana ke perbankan atau lending facility masing-masing tetap di 4,25 persen dan 5,75 persen.

Keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan pada awal tahun karena bank sentral melihat prospek pemulihan ekonomi global yang mampu meredakan ketidakpastian.

Pemulihan ketidakpastian itu karena pertumbuhan ekonomi dari beberapa negara dan prospek positif di industri manufaktur di dunia.

Keputusan dipertahankannya suku bunga itu juga mempertimbangkan kondisi ekonomi di dalam negeri, seperti pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tetap terjaga ditopang oleh ekspor berkat permintaan dari sejumlah negara mitra dagang.

Kemudian juga ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi, khususnya di sektor manufaktur.

Otoritas moneter memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,1 persen sampai 5,5 persen pada 2020. Sementara di kuartal III 2019, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen.

Untuk defisit transaksi berjalan pada 2019, BI memperkirakan akan sebesar 2,7 persen dari PDB.

Kemudian defisit transaksi berjalan akan terus terkendali menjadi 2,5 persen sampai tiga persen pada 2020.

Baca juga: IHSG menguat tipis, investor menunggu kebijakan BI soal suku bunga
Baca juga: Gubernur BI: Harga komoditas turun kesempatan dorong industri hilir