BI NTB percepat pemulihan ekonomi dengan rumus satu ditambah lima

Ahmad Buchori
·Bacaan 2 menit

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Barat berupaya mempercepat pemulihan ekonomi daerah itu dan tumbuh di kisaran 3,8-4,2 persen pada 2021 menggunakan rumus satu ditambah lima (1+5).

"Jadi angka 3,8 sampai dengan 4,2 persen adalah angka yang paling moderat sekali. Kita ada skenario kalau memang sesuai dengan kondisi begini saja, tidak ada gejolak yang lebih berat dari pandemi COVID-19 saat ini. Bahkan, kami berani optimis lebih dari lima persen, jadi jangan pesimis," kata Kepala BI NTB Heru Saptaji, di Mataram, Selasa.

Ia menyebutkan yang dimaksudkan rumus satu adalah dimensi kesehatan, yakni bagaimana upaya pemerintah melakukan vaksinasi harus berbanding lurus dengan pengendalian COVID-19 yang lebih baik pada 2021.

BI secara nasional juga terlibat secara bersama-sama dalam dimensi kesehatan tersebut. Sebab, berbicara pemulihan ekonomi di masa pandemi tidak bisa lepas dari dimensi kesehatan. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

"Kita bisa bayangkan orang akan melakukan aktivitas ekonomi, tapi masih khawatir dengan COVID-19," ujarnya.

Heru menambahkan lima hal yang juga menjadi syarat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pada 2021 erat kaitannya dengan kebijakan di sektor ekonomi.

Pertama, ekspansi dengan memprioritaskan sektor produktif aman di NTB, seperti pertanian, kelautan dan perikanan serta industri olahan dan turunannya.

Kedua, mendorong stimulus fiskal bisa lebih cepat terserap pada awal tahun. Percepatan stimulus bisa dilakukan pada triwulan I, triwulan II dan III. Sebab, relasiasi APBN di daerah dan APBD menjadi sangat penting dalam upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi saat ini.

Ketiga, lanjut Heru, adalah mendorong pertumbuhan kredit perbankan yang seimbang dan inklusif. BI NTB bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, serta industri perbankan berkomitmen untuk meningkatkan pertumbuhan kredit yang seimbang dan fokus pada sektor prioritas aman dan produktif.

Keempat adalah melakukan kebijakan moneter tetap yang bersifat akomodatif terhadap pemulihan ekonomi nasional. Artinya, kebijakan moneter dan makro prudensial yang akan dilakukan BI bersifat longgar untuk memberikan ruang gerak kepada perbankan menaikkan ekspansi kreditnya.

Kelima adalah mendorong proses digitalisasi pada berbagai sektor lini perekonomian. Misalnya dalam perkembangan UMKM digitalisasi transaksi pembayarannya.

"Lima rumusan kebijakan itu yang akan dilakukan oleh BI di level pusat dan daerah," ujar Heru.

Ia berharap kepada semua pihak di NTB, agar bersama-sama meningkatkan ikhtiar dan terus membangun sikap optimis dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi pada 2021 dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan COVID-19.

Baca juga: BI-Pemprov NTB promosikan potensi investasi lewat IID Singapura

Baca juga: BI NTB gelar pelatihan wirausaha di tengah COVID-19

Baca juga: BI NTB: Transaksi nontunai selama pandemi COVID-19 meningkat

Baca juga: BI: Permintaan uang di NTB turun signifikan akibat COVID-19