BI Pede Rupiah Berpotensi Menguat, Ini Pendorongnya

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih bisa menguat lagi. Meskipun, saat ini kembali melemah di kisaran atas Rp14.100 per dolar AS.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mematok nilai tengah rupiah hari ini di level Rp14.187 per dolar AS. Melemah dari nilai tengah kemarin di posisi Rp14.076 per dolar AS.

Baca juga: Pengrajin Didorong Inovasi Produk, Ciri Khas Lokal Jangan Dihilangkan

"Sekarang diperdagangkan sekitar Rp14.100. Kami melihat bahwa nilai tukar rupiah masih berpotensi untuk menguat, kami melihat bahwa level sekarang secara fundamental masih undervalued," tutur Perry, Kamis, 12 November 2020.

Perry menegaskan, jika melihat fundamental ekonomi Indonesia yang ada saat ini, nilai tukar rupiah tersebut masih jauh di bawah nilai fundamentalnya. Oleh sebab itu, dia meyakini rupiah masih akan bisa menguat.

Dia mencontohkan dari sisi inflasi, saat ini masih berkisar di level 1,44 persen secara tahunan pada Oktober 2020. Sementara itu, transaksi berjalan defisit US$2,9 miliar kuartal II-2020 dan premi risiko menurun.

"Dengan melihat bahwa inflasi rendah, transaksi berjalan defisitnya rendah, daya tarik aset keuangan Indonesia yang tinggi dan premi risiko yang menurun," tutur dia.

Menurut Perry, beberapa indikator risiko di pasar keuangan juga mulai mereda, seperti Credit Default Swap (CDS) yang di posisi 73 dan VIX Index di posisi 26, meskipun ketidakpastian pasar keuangan masih tinggi.

"Di pasar keuangan global juga ketidakpastian mulai turun meski tetap tinggi karena faktor geopolitik dan second wave pandemi COVID-19. VIX dan CDS turun terutama di bulan-bulan November setelah pemilu di AS," ucap dia. (art)