BI: Pertumbuhan Ekonomi 2021 Masih Sesuai Proyeksi 5,1 Persen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan kondisi perekonomian nasional pada kuartal II 2021 sesuai dengan perkiraan. Sejumlah perkembangan yang terjadi membuat pertumbuhan ekonomi RI pada tahun ini masih sesuai proyeksi.

"Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2021 tetap sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia pada April 2021, yakni pada kisaran 4,1 - 5,1 persen," kata Perry dalam konferensi pers pada Selasa (25/5/2021).

Perkembangan yang dimaksud mencakup perbaikan kondisi ekonomi yang mulai terlihat sejak kuartal I 2021. Pada kuartal I 2021, perbaikan ekonomi kembali terlihat dengan kontraksi yang lebih rendah dari triwulan IV 2020, yaitu dari 2,19 persen (yoy) menjadi 0,74 persen (yoy).

Perbaikan terutama didorong oleh kinerja ekspor akibat kenaikan permintaan Tiongkok dan AS, realisasi belanja fiskal (belanja barang, belanja modal, dan bantuan sosial), serta investasi nonbangunan.

Sementara itu, perbaikan konsumsi rumah tangga masih belum kuat dipengaruhi oleh masih terbatasnya mobilitas masyarakat sejalan dengan pengendalian Covid-19 di sejumlah wilayah.

Secara spasial, kata Perry, perbaikan ekonomi terjadi di seluruh wilayah Indonesia, dengan Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) melanjutkan pertumbuhan positif. Pada triwulan II 2021, berbagai indikator dini menunjukkan ekonomi terus membaik, seperti tercermin pada ekspektasi konsumen, penjualan eceran, PMI Manufaktur, serta realisasi ekspor dan impor yang tetap meningkat.

"Dari sisi permintaan, perbaikan ekonomi terutama didorong oleh peningkatan ekspor dan investasi nonbangunan. Dari sisi lapangan usaha (LU), peningkatan terjadi di sejumlah sektor seperti industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi," jelasnya.

Melihat sejumlah perkembangan tersebut, BI pun meyakini pertumbuhan ekonomi 2021 tetap sesuai dengan proyeksinya pada bulan lalu yakni pada kisaran 4,1 - 5,1 persen.

Alasan Sri Mulyani Pede Pertumbuhan Ekonomi 8,3 Persen di Kuartal II 2021

Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 di rentang 7,1 persen-8,3 persen yoy. Proyeksi ini dipengaruhi arah pemulihan yang lebih kuat dan faktor base effect.

"Kenapa ada range, karena kita masih selalu dihadapkan pada ketidakpastian. April sangat kuat, Mei kita perkirakan masih bertahan sampai dengan minggu terakhir ini dan kalau Covid-19 tidak meningkat maka momentum mobilitas dan pemulihan akan terus berjalan, dan kita bisa mendapatkan outlook tadi 7,1-8,3 persen," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Mei 2021 pada Selasa (25/5/2021).

Kinerja kuartal II 2021 dipengaruhi oleh lima faktor yaitu konsumen masyarakat, konsumsi pemerintah, investasi, ekspor dan impor. Konsumsi masyarakat disebut pulih seiring momentum Idulfitri dan pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang terus berlanjut.

"Memang ini sumbangannya adalah konsumsi masyarakat meningkat terutama dengan momen Ramadan dan Lebaran, meskipun tetap tidak mudik tapi tetap memberikan momentum," jelasnya.

Kemudian dari sisi konsumsi pemerintah, disebut tumbuh tinggi seiring pelaksanaan PEN dan aktivitas pelayanan mudik yang lebih normal dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Investasi juga mengalami rebound sangat kuat didukung arah ekspansi dunia usaha, serta kelanjutan proyek infrastruktur pemerintah.

"Ekspor kita juga melonjak sangat tinggi di April yang kita perkirakan momentumnya sampai Juni nanti," tutur Sri Mulyani.

Impor Tumbuh Tinggi

Aktivitas bongkar muat peti kemas di JICT Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (18/10). Penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan ekspor menyebabkan surplus neraca dagang pada September 2016 mencapai US$ 1,22 miliar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Aktivitas bongkar muat peti kemas di JICT Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (18/10). Penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan ekspor menyebabkan surplus neraca dagang pada September 2016 mencapai US$ 1,22 miliar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara impor juga mengalami pertumbuhan tinggi. Hal ini mengindikasikan pemulihan permintaan domestik, serta menunjang kebutuhan produksi dan investasi.

Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi RI pada 2021 4,5 persen-5,3 persen. Lebih tinggi daripada prediksi lembaga internasional seperti World Bank yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini hanya 4,4 persen.

"Kita masih lebih optimis dengan membuat range di atas lima," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel