BI: Pertumbuhan Ekonomi 2022 Bisa 5,5 Persen, tapi Ada Syaratnya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berada di kisaran 4,1 sampai 5,1 persen. Sementara pada 2022 meningkat mencapai 5 - 5,5 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan tersebut bisa tercapai dengan beberpa syarat. Pertama program vaksinasi pemerintah harus terus dilakukan, sehingga mendorong adanya mobilitas dan juga konsumsi.

Kemudian implementasi Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) harus dilakukan. Sebab, UU sapu jagat tersebut memberikan kemudahan berusaha, dan beri andil terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

"Di samping kinerja ekspor yang akan tumbuh tinggi dan juga stimulus fiskal dan moneter yang akan terus berlanjut. Stabilitas eksternal juga terjaga berikutnya nilai tukar harus bergerak stabil," jelasnya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Senin (31/5).

Selain pertumbuhan ekonomi, BI juga memperkirakan laju inflasi pada tahun ini dan 2022 mendatang akan tetap terjaga sesuai dengan target pemerintah. Hal ini sejalan dengan harga komoditas yang sudah bergerak stabil serta terjaganya koordinasi antara pusat dan daerah melalui TPI dan TPID.

"Kami optimis inflasi tahun ini dan tahun depan dapat terjaga di kisaran 3 sampai +- 1 persen (2-4 persen). Demikian ringkasan proyeksi kami untuk tahun depan," jelas Gubernur Bank Indonesia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

BI Mulai Waspada Soal Rencana The Fed Naikkan Suku Bunga

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bank Indonesia (BI) terus mewaspadai kebijakan moneter ketat yang dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve ( The Fed) pada tahun depan. Mengingat bank sentral AS tersebut akan mengubah kebijakan moneternya dengan mengurangi intervensi likuiditas bahkan lakukan pengetatan dan kenaikan suku bunga.

"Tahun depan kita masih memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan bahwa The Fed akan mulai mengubah kebijakan moneternya," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama dengan Badan Anggaran DPR RI, Senin, di Jakarta (31/5).

BACA JUGA

BI Sempurnakan Ketentuan Sistem Monitoring Transaksi Valas Terhadap Rupiah Perry khawatir kebijakan The Fed akan membawa pengaruh terhadap perkembangan beberapa indikator makro ekonomi. Terutama terhadap perkembangan suku bunga atau yield Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar Rupiah

"Sehingga tahun depan di pasar keuangan perlu kita pastikan agar stabilitas ekonomi terutama moneter itu terbaik dan terutama perkembangan yield SBN dan nilai tukar Rupiah yang perlu kita lihat. Jadi untuk 2022 perlu kita antisipasi hal-hal itu," jelasnya.

Sebelumnya, nilai tukar atau kurs Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (27/5) sore ditutup menguat di tengah ekspektasi kebijakan moneter ketat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed).

Rupiah ditutup menguat 40 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp14.288 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.328 per USD.

"Ekspektasi bahwa Federal Reserve perlahan tapi pasti akan bergerak untuk membahas kebijakan moneter yang lebih ketat meningkat," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis (27/5).

Meskipun The Fed bersikeras akan mempertahankan kebijakan dovish-nya saat ini, beberapa pejabat The Fed telah mengisyaratkan dalam komentar baru-baru ini bahwa waktu untuk membahas perubahan kebijakan bisa mendekati lebih cepat dari yang diharapkan.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 90,047, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 90,042.

Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,588 persen, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 1,574 persen.

Sementara itu pasar juga fokus pada rilis data AS lebih lanjut, termasuk PDB untuk kuartal pertama 2021.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat ke posisi Rp14.300 per USD. Sepanjang hari Rupiah bergerak di kisaran Rp14.286 per USD hingga Rp14.323 per USD.

Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis menguat menjadi Rp14.312 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.335 per USD.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel