BI Prediksi Penjualan Korporasi Tumbuh Positif di Kuartal I-2021

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung, menilai sisi permintaan dari sektor korporasi saat ini masih dalam proses pemulihan.

Itu tercermin dari angka penjualan (sales) korporasi yang terdaftar di pasar modal, dimana pertumbuhan penjualan (sales growth) masih terkontraksi minus 2,9 persen di kuartal I 2021.

Namun, Juda mengungkapkan, Bank Indonesia memprediksi angka pertumbuhan penjualan di sektor korporasi bisa beranjak positif mulai kuartal II 2021 ini.

"Tapi kita perkirakan di triwulan 2 Insya Allah sudah mulai positif sales korporasi," ujar Juda dalam acara peluncuran buku Kebijakan Makroprudensial di Indonesia, Jumat (28/5/2021).

Kendati begitu, dia menyoroti angka belanja modal (capital expenditure/Capex) dan investasi korporasi masih negatif cukup besar di kuartal I 2021, minus 21 persen.

"Jadi memang dengan kebutuhan untuk melakukan investasi yang belum terlalu besar, kita lihat free cashflow-nya masih cukup melimpah di sisi korporasi," ungkapnya.

Juda mengatakan, kemampuan bayar korporasi kelihatan juga masih belum sepenuhnya pulih. Itu terlihat dari interest coverage ratio sebagai rasio untuk mengukur kemampuan bayar yang masih di bawah batas aman 1,5 persen.

Sisi Rumah Tangga

Petugas menata tumpukan uang di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (20/1/2021). BI mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tinggi pada November 2020 dengan didukung komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas menata tumpukan uang di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (20/1/2021). BI mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tinggi pada November 2020 dengan didukung komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dari sisi rumah tangga, kebutuhan untuk melakukan pinjaman disebutnya juga belum terlalu tinggi. Sebab sekarang ini pemulihan konsumsi rumah tangga masih fokus pada kebutuhan-kebutuhan yang primer.

"Jadi sudah ada pemulihan di sektor rumah tangga, tapi memang masih lebih di kebutuhan primer. Sementara yang high income people yang salah satu driver konsumsi rumah tangga di Indonesia, itu masih belum terlalu banyak melakukan konsumsi," tuturnya.

"Jadi tidak heran DPK (dana pihak ketiga) dari rumah tangga juga masih cukup melimpah. Ini mengapa sebagian rumah tangga mulai berinvestasi di sektor keuangan, saham ritel tuh sekarang tumbuhnya luar biasa," tandas Juda.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel