BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global di 2020 Negatif 2,2 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan negatif sepanjang 2020. Penyebab utama anjloknya pertumbuhan ekonomi global ini adalah pandemi Corona covid-19 yang meruntuhkan ekonomi hampir seluruh negara di dunia. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan,  pertumbuhan ekonomi dunia akan negatif 2,2 persen di 2020. kemudian pertumbuhan ekonomi global akan kembali meningkat pada 2021 menjadi 5,2 persen.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi globaldidorong oleh stimulus fiskal maupun moneter yang ditempuh oleh banyak negara. Menurut Perry, Ketidakpastian pasar keuangan global juga mulai mereda di 2021.

"Tekanan nilai tukar pada kondisi ini secara perlanhan meendorong mulai berkurangnya intensitas aliran modal keluar dari negara berkembang, kemudian diikuti dengen menurunannya nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia," jelas dia pada Selasa (19/5/2020).

Pandemi Corona ini tentu saja juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 tercatat tumbuh 2,97 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 4,97 persen.

Virus Corona Ganggu Pertumbuhan Ekonomi Global, Begini Prediksi IMF

Suasana gedung bertingkat nampak dari atas di kawasan Jakarta, Senin (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 mencapai 5,02 persen (year on year). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan wabah virus Corona dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi negara dan dunia.

Ekonomi global diprediksi tumbuh hanya mencapai 3,3 persen. Angka ini terpangkas 0,1 hingga 0,2 persen karena virus Corona.

Ini dia ungkapkan saat menjadi pembicara dalam Global Women's Forum Dubai (GWFD), seperti mengutip laman Gulfnews.com, pada Senin 17 Februari 2020. 

“China saat ini memiliki bagian yang jauh lebih besar (19 persen) dari ekonomi global daripada selama epidemi SARS (8 persen). Jadi, jika keadaan memburuk untuk China, ini bukan kabar baik bagi seluruh dunia, tetapi mereka (China) bekerja sangat keras untuk mengatasi epidemi ini,” ujar dia.

Dia pun meminta semua negara-negara dan pihak terkait untuk bahu-membahu mengatasi dampak virus ini.

"Ini adalah kasus khusus di mana saya menyarankan semua orang untuk tidak langsung mengambil kesimpulan prematur. Masih ada banyak ketidakpastian. Kami beroperasi dengan skenario (dampak virus) belum dalam proyeksi," kata dia.

Dia mengatakan dampak virus Corona sudah mempengaruhi beberapa rantai sektor dari ekonomi global, seperti pariwisata yang kemudian ke sektor perjalanan.