BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021 Capai 5,3 persen

Dusep Malik, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa untuk keseluruhan tahun ini, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada pada kisaran 4,3-5,3 persen.

"Lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang berada pada kisaran 4,8-5,8 persen, sejalan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2020," kata Perry dalam telekonferensi, Kamis 18 Februari 2021.

Perry menjelaskan, implementasi vaksinasi COVID-19 dan sinergi kebijakan nasional, diprakirakan akan ikut mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional ke depannya. Hal itu sebenarnya sudah tercermin pada kuartal IV-2020 di mana ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 2,19 persen year-on-year (yoy), dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 3,45 persen.

"Karena konsumsi swasta dan investasi bangunan masih lemah, akibat terbatasnya mobilitas masyarakat akibat pandemi COVID-19. Sehingga secara keseluruhan tahun 2020 ekonomi terkontraksi 2,07 persen," ujarnya.

Ke depan, Perry memprediksi bahwa perbaikan ekonomi domestik masih akan berlanjut, sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan akselerasi program vaksin nasional oleh pemerintah.

Hal itu didukung pula oleh perbaikan kinerja ekspor yang terus berlanjut pada beberapa komoditas, seperti misalnya CPO, batu bara, dan besi baja. "Serta sejumlah produk manufaktur seperti kimia organik, kendaraan bermotor, dan alas kaki yang kemudian akan mendorong kinerja sektoral," kata Perry.

Perbaikan kinerja ekspor diakui Perry juga tercatat di sejumlah wilayah, khususnya di Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, dan Sumatera. Sementara itu, untuk mendorong masih lemahnya permintaan domestik, sinergi kebijakan ekonomi nasional dipastikan juga akan terus diperkuat.

Sinergi kebijakan yang mencakup lima aspek itu antara lain yakni pembukaan sektor-sektor produktif dan aman, upaya akselerasi stimulus fiskal, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran, serta berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial.

"Kemudian ada juga percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya terkait pengembangan UMKM," ujarnya.