BI Proyeksikan Kurs Rupiah 2022 Menguat Jadi Rp14.100 Per Dolar AS

·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan tahun depan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed, akan menaikkan suku bunga kebijakannya pada 2022. Selain itu, mereka juga diperkirakan akan memperketat kebijakan moneter lainnya.

Penyebabnya, kata Perry, inflasi di AS terus mengalami kenaikan seiring dengan laju pemulihan ekonominya yang mengalami percepatan. Kondisi ini dipastikannya akan menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.

"Mulai mengurangi stimulus moneternya bahkan kemungkinan menaikkan suku bunga karena kenaikan inflasi dan ekonomi AS yang tumbuh tinggi," kata dia saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu, 2 Juni 2021.

Kondisi tersebut, Perry menambahkan, akan juga dipicu oleh adanya kemungkinan tambahan stimulus fiskal di AS yang mencapai Rp2,2 triliun. Oleh sebab itu, dia memperkirakan masih adanya faktor risiko tahun depan meskipun risiko Pandemi COVID-19 akan mereda.

"Itu faktor ketidakpastian ekonomi ke depan dan tentu saja juga kemungkinan ada tambahan stimulus fiskal di AS US$2,2 triliun yang sekarang dalam pembahasan. Tentu saja itu ketidakpastian risiko yang perlu kita lihat ke depan," ujar Perry.

Dengan faktor-faktor risiko tersebut, Perry memastikan, saat ini pergerakan nilai tukar rupiah yang sangat berkaitan dengan faktor eksternal masih bergerak di rentang sasaran target tahun ini, yaitu berada di kisaran Rp14.200 per dolar AS.

Baca juga: Peter Gontha Minta Garuda Tak Bayar Gajinya, Biar Pada Sadar Krisis

"Terlihat sekarang rupiah bergerak di sekitar Rp14.200 sampai kuartal I Rp14.264 rata-ratanya kami akan terus melakukan stabilitas nilai tukar ini dan didukung cadangan devisa akhir bulan lalu US$138,8 miliar," tegas dia.

Sementara itu, secara keseluruhan tahun ini, Perry memperkirakan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berada di kisaran Rp14.200-Rp14.600 per dolar AS. Besaran nilai tukar rupiah ini ditegaskannya masih undervalue atau di bawah nilai semestinya.

"Secara keseluruhan kami perkirakan Rp14.200-14.600 pada 2021 apakah nilai tukar ini ada pertanyaan dari pimpinan masih undervalue secara fundamental iya karena inflasi kita rendah, defisit transaksi berjalan rendah dan juga ekonomi kita yang membaik," tuturnya.

Meski pemulihan ekonomi Indonesia terus mengalami perbaikan yang signifikan dari dampak COVID-19, para pelaku pasar keuangan dan investor dikatakan Perry juga mencermati risiko eksternal, khususnya berkaitan dengan kenaikan US Treasury dan kebijakan The Fed.

"Ini mendorong kami memperkirakan nilai tukar rupiah 2022 kisarannya adalah Rp14.100 sampai dengan Rp14.500 masih menguat dari 2021 tentu saja karena ketidakpastian global itu pengutannya tidak seperti mengarah betul pada fundamental," ucap Perry.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel