BI Regulator Terbaik Se Asia Pasifik yang Sukses Jaga Sistem Keuangan

·Bacaan 2 menit

VIVABank Indonesia meraih penghargaan The Best Systemic and Prudential Regulator in Asia Pacific Award 2021 dari The Asian Banker. BI dinilai berhasil mengimplementasikan kebijakan makropudensial di tenngah pelemahan ekonomi karena COVID-19.

Asian Banker menilai, kebiakan BI akomodatif dan tepat sasaran. Khususnya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta memitigasi dampak pelemahan ekonomi yang terjadi saat ini.

“Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan dunia internasional atas kerja keras BI, bersama dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menavigasi perekonomian Indonesia di tengah kondisi luar biasa dari pandemi COVID-19,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menerima penghargaan dalam acara virtual The Asian Banker Leadership Achievement Awards 2021, Kamis, 28 Juli 2021.

Perry menjabarkan, ada tiga hal penting yang dilakukan BI dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan di tengah pandemi saat ini. Pertama, implementasi kebijakan makroprudensial sebagai bagian integral dari bauran kebijakan bersama dengan kebijakan moneter dan sistem pembayaran.

Baca juga: Cerita Wamen BUMN Soal Krakatau Steel dan PTPN Hampir Bangkrut

Kedua, mengadopsi kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Sedangkan kebijakan ketiga adalah melakukan koordinasi dan sinergi kebijakan makroprudensial dengan pemerintah serta otoritas terkait di dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

“Ke depan, fokus kebijakan makroprudensial diarahkan untuk mempercepat intermediasi keuangan guna mendukung dunia usaha dan pemulihan ekonomi,” jelasnya.

Penghargaan dari The Asian Banker itu diberikan dengan pertimbangan empat pencapaian BI dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Pertama, kemampuan BI mengimplementasikan bauran kebijakan, mencakup kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan tepat sasaran terutama dalam merespons dampak pandemi COVID-19.

Kedua, selama 2020 Bl telah menurunkan BI7DRRR sebesar 125 bps dan menambah likuiditas di perbankan (quantitative easing) sebesar Rp740,7 triliun atau sekitar 4,8 persen dari PDB. Implementasi kebijakan makroprudensial diarahkan untuk memastikan terjaganya Iikuiditas perbankan guna mendukung pemulihan ekonomi, khususnya pembiayaan ekspor-impor, UMKM, dan sektor prioritas.

Kemudian yang ketiga, kebijakan makroprudensial Bl dinilai telah sukses dalam mengelola prosiklikalitas untuk menopang stabilitas sistem keuangan, dengan didukung oleh sektor perbankan yang tangguh.

Sedangkan yang keempat, BI dinilai berperan aktif dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan mengimplementasikan langkah-langkah kebijakan yang cepat, signifikan, dan inovatif. Kemudian, jelas dan sesuai tata kelola, terutama dalam penyediaan Iikuiditas melalui mekanisme burden sharing dengan Pemerintah.

Penghargaan ini tercatat adalah yang kedua dari The Asian Banker di bawah kepemimpinan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Setelah tahun lalu BI menerima penghargaan sebagai The Best Macroeconomic Regulator in Asia Pacific 2020. (Ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel