BI Sebut Perlu Integrasikan Ekonomi dan Keuangan Islam dengan Digitalisasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Sugeng, mengatakan kegiatan ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air tengah menuju normal baru. Di mana, sektor ini akan lebih banyak mengarah ke digitalisasi akibat adanya pandemi Covid-19.

"Jadi, digitalisasi menjadi penting. Untuk mendapatkan manfaat maksimal di era baru ini, negara-negara oleh karena itu perlu gesit dan mulai mengintegrasikan ekonomi dan keuangan Islam dengan pendekatan digitalisasi," katanya dalam acara ISEF, Kamis (29/10/2020).

Dia menyadari, ekonomi dan keuangan Islam sendiri memiliki potensi yang sangat besar untuk diintegrasikan dengan digitalisasi. Ekonomi dan keuangan Islam, yang dulunya sangat terbatas pada instrumen keuangan berbasis syariah yang ditawarkan melalui bank syariah, kini telah berkembang menjadi definisi yang lebih luas.

Di mana ruang lingkup ekonomi dan keuangan Islam saat ini meliputi rantai nilai halal Islam, media dan rekreasi Islami, pariwisata Islami (atau kita sebut pariwisata Muslim-Friendly), apotek dan kosmetik halal, keuangan sosial dan komersial Islam, dan sebagainya.

Sugeng menyeut, berdasarkan State of Global Islamic Economic Report 2019-2020, belanja konsumsi ekonomi Islam global di berbagai sektor tersebut diperkirakan mencapai lebih dari USD 3 triliun pada tahun 2024 atau meningkat 45 persen dari USD 2,2 triliun pada tahun 2018.

"Pengeluaran yang sangat besar di berbagai sektor ekonomi dan keuangan Islam, jika diintegrasikan dengan digitalisasi, akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru," tandas dia.

Negara Non-Muslim yang Kembangkan Ekonomi dan Keuangan Islam

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Dengan potensi yang begitu besar, bahkan, kata dia, banyak negara yang mengalihkan fokusnya untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan Islam, meskipun mereka bukan negara mayoritas Muslim.Misalnya saja Thailand dan Korea Selatan. Mereka menaruh perhatian serius pada pengembangan pariwisata ramah Muslim.

"Thailand telah menyatakan negara mereka sebagai dapur halal dunia dan Korea Selatan menyatakan diri sebagai tujuan wisata ramah Muslim dunia," kata dia.

Tak hanya itu, negara mayoritas non-Muslim lainnya seperti China telah menghasilkan sejumlah besar item fashion Muslim. Dan mereka menjualnya melalui platform digital. "Untuk itu, negara kita tidak boleh ketinggalan," tandas dia.

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: